Studio Audio Visual Puskat
  • Hubungi Kami
  • Testimoni

INDEX Artikel

Post: Rabu, 20 Agustus 2014 / 1 Comments

Oleh: Margaretha Rini Indonesia adalah negara yang mempunyai jumlah penduduk dan kebudayaan yang beraneka ragam. Sebagai negara kepulauan yang mempunyai kekayaan alam dan aneka ragam hayati, Indonesia tidak hanya dikenal karena keragaman etnik, suku bangsa, agama, dan budaya, tetapi juga karena mampu menyikapi keberagaman tersebut dalam tingkat peradaban. Oleh karena itu kebudayaan yang merupakan kunci peradaban manusia merupakan komoditas utama yang harus dilestarikan dan menjadi tanggung jawab setiap insan untuk senantiasa menjaga keberadaannya. Sampai saat ini belum banyak orang yang tahu kalau di belahan Pulau Sulawesi, terdapat sebuah gugusan kepulauan yang menyimpan potensi baik seni tradisi, budaya, maupun pesona alam yang sangat ...selengkapnya ...

Post: Selasa, 01 Juli 2014 / 1 Comments

Oleh: FX. Tri Mulyono   Panorama Awal: Teater Rakyat yang dimaksudkan dan Teater Rakyat Tradisional Kalangan umum memahami, teater dimengerti sebagai seni pertunjukan. Namun Teater Rakyat dalam arti yang akan kita bicarakan ini bukan sekedar seni pertunjukan, tetapi lebih-lebih merupakan seni yang ingin mengungkapkan realitas, dengan menganalisis struktur dalam masyarakat. Ini berbeda dengan teater rakyat tradisional. Maka hal pertama yang perlu kita perhatikan adalah mengenali batasan antara “Teater Rakyat” yang hendak kita bicarakan dalam tulisan ini dengan “Teater Rakyat Tradisional” yang dimengerti masyarakat kebanyakan. Keduanya hidup dan ada dalam masyarakat kebanyakan. Keduanya sama-sama tidak terlalu dibebani muatan berkesenian yang muluk-muluk. Artinya, keduanya menampilkan bentuk ...selengkapnya ...

Post: Selasa, 01 Juli 2014 / 0 Comments

Oleh: FX. Tri Mulyono   Belajar Teater Rakyat berarti memaknai dua kata tersebut, Teater dan Rakyat.      Pada makna Teater; Teater sebagai ruang untuk mengekspresikan rasa keindahan diri manusia. Apa yang diekspresikan? Mengapa perlu mengekspresikan rasa keindahan? Mengapa diekspresikan dengan cara-cara yang indah/seni teater? Untuk apa manusia merasa perlu berekspresi melalui pendekatan teater? Sederet pertanyaan tersebut menuntut jawaban yang tidak mudah segera ditemukan jawabannya. Melalui pertanyaan-pertanyaan itulah kita coba menelusuri pentingnya kita belajar teater. Sebagai mana umum ketahui bahwa teater itu seni laku tentang kehidupan. Dia tampil tidak secara sendirian. Dia memiliki disiplin atau kaidah-kaidah yang mengikatnya. Maka kepentingan belajar teater ...selengkapnya ...

Post: Sabtu, 24 Mei 2014 / 0 Comments

Oleh: FX. Tri Mulyono   Manusia makhluk multidimensi yang unik ditandai dengan adanya “motivasi”. Menurut Aries Toteles (Filsuf Yunani) manusia adalah makhluk individual sekaligus sosial. Dari sinilah kita sepakati istilah manusia makhluk dua sisi. Dalam pandangannya, individualitas dan sosialitas manusia tercapai dan terpenuhi karena adanya pembauran atas keduanya. Manusia mengenali jati dirinya karena dia telah, sedang dan akan bersama orang lain. Dengan mengenali jati dirinya manusia disadarkan bahwa dirinya bagian dari orang lain. Ketika manusia sadar bahwa dirinya menjadi bagian dari orang lain tentu dia akan terjun, terlibat dalam pergumulan hidup bersama orang lain. Ketika itu pula manusia memberikan sesuatu namun sekaligus ...selengkapnya ...

Post: Sabtu, 24 Mei 2014 / 1 Comments

Oleh: FX Tri Mulyono Catatan awal:  Yang harus dipahami bersama dulu Rasa takut dan cemas yang sering kali membuat kita gugup ketika kita hendak berbicara kepada orang publik merupakan gejala alami manusia. Setiap manusia mengali hal itu. Gejalanya bisa bermacam-macam: bibir kering, perut mual, keringat dingin, lutut gemetar, detak jantung makin berdebar-debar dan macam-macam lagi karena setiap orang mengalami gejala yang berbeda-beda. Rasa takut dan cemas seperti itu sebaiknya dianggap sebagai sesuatu yang positif saja, karena hal ini menandakan bahwa dalam diri kita ada kesadaran bahwa tidak semua hal terjadi secara rutin. Selain itu memberi tanda pada kita bahwa kita tidak menilai diri sendiri ...selengkapnya ...

Post: Jumat, 21 Februari 2014 / 2 Comments

Oleh: Murti Hadi Wijayanto SJ   Hati saya gelisah ketika suatu malam saya mencoba dengan sengaja mengikuti sebuah acara di televisi dari jam 7 malam sampai hampir jam 12 malam. Konon acara ini ratingnya sedang tinggi dan menjadi ikon sebuah statiun televisi swasta di Jakarta. Teman-teman saya para penonton televisi, semua membicarakan program ini. Saya pun ikut tertawa ketika menyaksikan tayangan-tayangan awal, tetapi rasa senang saya itu tidak bertahan lama, setelah itu saya merasa boring banget, istilah anak-anak gaul jaman sekarang. Sejenak terbersit dalam ingatan saya akan tulisan Neil Postman, Menghibur Diri Sampai Mati. Sedemikan hauskan orang-orang Indonesia ini akan hiburan sampai ...selengkapnya ...

Post: Rabu, 19 Februari 2014 / 1 Comments

Oleh: Murti Hadi Wijayanto SJselengkapnya ...

Post: Rabu, 18 Mei 2011 / 0 Comments

 April 19, 2011 : Studio Audio Visual (SAV) PUSKAT Yogyakarta, Indonesia organized a press conference at EX-Plaza, Jakarta attended by 50 media companies. This press conference was organized to announce the movie project on “nationalism of Mgr. Soegijapranata SJ” (the first local bishop in Indonesia during the revolution). The producer of this movie is SAV Puskat in cooperation with many stakeholders, such as Garin Nugroho (an internationally well-known film director), Djaduk Ferianto (an ethnical musician based in Yogyakarta), and Fr. Budi Subanar SJ (the author of some ...selengkapnya ...

Post: Kamis, 29 November 2007 / 0 Comments

Introduction  I still remember most of stories I heard from catechists when I was a little boy though it was more than 35 years ago. Through the stories, either folklore, life stories, or stories from the Holy Bible, my faith of Jesus Christ grew. At that time oral tradition was still very powerful. A catechist built his reputation through his competency of telling stories and his work in Kampong’s. It seemed that, stories and a catechists’ figure (his/her good reputation/leadership) played a very important role for faith/religious education. This conviction was confirmed since I joined Crec-AVEX, Lyon-France courses in 1992. ...selengkapnya ...

Post: Kamis, 14 September 2006 / 0 Comments

Pengantar Penulis yakin bahwa sebagian besar Pembaca pernah nonton acara di TV? Berapa stasiun TV yang Anda kenal? Berapa jam Anda nonton siaran TV setiap harinya? Pada tahun 1996 saja, sekitar 90 juta penduduk Indonesia sudah memiliki pesawat televisi. 1 Memperhitungkan bahwa sejak 1994 pertambahan pesawat televisi di Indonesia sekitar 650.000 buah setiap tahunnya 2, maka bisa diperkirakan dalam tahun 2006 terdapat 96.500.000 pesawat televisi. Jika setiap pesawat TV ditonton oleh dua orang, jumlah penonton televisi di Indonesia mencapai 193 juta orang atau 87% dari jumlah penduduk Indonesia. Sementara itu pesawat video, VCD/DVD juga sudah merambah kemana-mana. Stasiun televisi juga semakin menjamur, baik ...selengkapnya ...