Studio Audio Visual Puskat
  • Hubungi Kami
  • Testimoni
Rabu,19 Februari 2014 09:54 | Artikel | 2391 Views | 1 Comments
Di Tepian Sungai Elo

Oleh: Murti Hadi WIjayanto SJ

Suatu hari saya menghadiri misa Requiem seorang ibu ex-siswi sekolah Mendut. Saya menyempatkan diri untuk melayat karena ibu yang meninggal ini sudah menolong saya banyak sekali saat saya riset untuk membuat film semi dokumenter tentang Romo Van Lith dengan judul Bethlehem van Java. Beberapa kali pertemuan dengan ibu ini membuat saya merasa dekat dan akhirnya saya juga merasa perlu mengantar kepergian beliau ke peristirahatan terakhirnya. Saya melihat juga ibu-ibu alumni sekolah mendut yang lain mengikuti misa requiem dan mereka semua duduk di depan. Jumlah mereka mulai banyak berkurang, karena meninggal dan juga usia lanjut. Dan yang menarik dari misa requiem ini adalah ketika peti diangkat dan akan diberangkatkan ke pemakaman, semua ibu-ibu alumni sekolah mendut ini menyanyikan sebuah lagu berbahasa Belanda “Aan de Oever van de Elo”, dalam bahasa Indonesia artinya “Di Tepian Sungai Elo”. Lagu ini adalah lagu kebanggaan para ibu alumni sekolah Mendut. Setiap kali mereka mengadakan pertemuan, mereka selalu menyanyikan lagu ini. Inilah lagu wajib sekolah Mendut, sebuah hymne yang menjadi semangat sekolah Mendut tetapi juga sekaligus memuat semua nostalgia akan sekolah itu. Ketika saya mendekati ibu-ibu sepuh yang menyanyikan lagu itu, mereka mengatakan bahwa ini adalah pesan dari ibu yang meninggal. Beliau ingin dinyanyikan lagu itu saat peti mulai diangkat menuju pemakaman. Sejenak peristiwa itu membawa saya pada sebuah keharuan. Setelah itu saya mulai berpirikir, lagu itu bisa menjadi judul sebuah film.


Sekolah Putri Mendut

 Mungkin tidak banyak yang tahu apa itu sekolah Putri Mendut dan dimana letaknya. Sekolah Putri Mendut ini mulai berdiri tahun 1908 dan ditutup pada saat Jepang datang pada tahun 1942, dan pada tahun 1943 sekolah ini dibumi-hanguskan. 35 tahun lamanya sekolah putri ini pernah berada di bumi Indonesia, di belakang pelataran candi Mendut, dan dalam suatu masa pernah ada 400an siswi putri mulai dari usia TK sampai SMP belajar di sekolah ini. Keberadaan sekolah ini memang tidak lepas dari keberadaan sekolah Guru Pria di Kolese Xaverius di Muntilan (sekarang SMA Pangudi Luhur Van Lith) yang didirikan oleh Rm Van Lith.

 

 

Keberadaan sekolah-sekolah ini tentu saja terkait dengan Missi Katolik dan sekolah-sekolah ini mendapat ruang yang luas untuk berkembang juga tentu saja terkait dengan etika politik Belanda. Dengan etika politiknya, Belanda sebagai bangsa yang menjajah ingin membalas budi Bangsa yang dijajah melalui jalan pendidikan. Bisa dibayangkan suasana pendidikan yang semacam ini. Di satu sisi tentu ingin berbuat baik untuk mendidik bangsa yang tak terdidik, disisi lain rasa superioritas sebagai bangsa yang menjajah tentu ikut mewarnai suasana pendidikan di sekolah-sekolah semacam ini. Disiplin menjadi cara komunikasi bagi bangsa yang melek pendidikan terhadap bangsa yang belum terdidik. Anak-anak Jawa yang belum melek pendidikan ini dianggap anak Jawa yang malas dan bodoh. Kegelisahan antara suasana pendidikan dan rasa sebagai bangsa terjajah tercampur di situ. Dan jika mengamati kisah ibu-ibu lulusan sekolah asrama Mendut ini pasti sekitar suasana ini, antara disiplin dan kenakalan-kenakalan anak-anak Mendut.

 

 

 

Dari sisi sekolah missi Katolik juga sangat menarik untuk diamati. Rm Van Lith yang dianggap sebagai bapaknya orang-orang Katolik Jawa memiliki pemikiran yang unik tentang sekolah missi ini. Dan Romo Van Lith tentu saja ikut menjadi penggagas berdirinya sekolah putri Mendut ini juga. Mendengar kata Missi mungkin yang terbersit pemikiran jaman itu adalah mengkatolikkan orang Jawa. Tetapi tidak bagi Rm Van Lith. Ia lebih berpikir tentang pembangunan martabat kemanusiaan orang-orang Jawa ini. Dan manusia semakin menjadi manusia kalau ia terbebas dari penjajahan kebodohan. Untuk itulah ia mulai mendirikan sekolah guru putra kolese Xaverius di Muntilan. Dan Romo Van Lith tidak hanya mendirikan sekolah biasa, tetapi sekolah Guru. Ia tahu posisi guru di masyarakat waktu itu. Mereka akan punya kedudukan yang tinggi di masayarakat. Guru pada jaman itu sungguh-sungguh bisa Digugu dan Ditiru. Posisi Guru adalah Posisi strategis di masyarakat waktu itu. Orang-orang muda ini jugalah yang juga akan membebaskan bangsanya dari kebodohan. Maka sekolah-sekolah seperti Kolese Xaverius itu bukan sekedar sekolah tetapi juga tempat kaderisasi para guru yang akan menjadi pendidik di seluruh pelosok negeri ini.

 

 

 

Berdirinya sekolah putri Mendut tentu tidak lepas dari pemikiran Rm Van Lith di atas. Tetapi memang juga tidak lepas dari cara berpikir kreatif (untuk tidak mengatakan nakal) nya cara pikir para missionaris jaman itu. Setelah para missionaris itu mendirikan sekolah guru pria, lalu mereka mulai berpikir tentang keluarga para guru-guru ini. Kalau mereka ini nanti menikah, siapakah yang akan menjadi istri mereka? Mereka harus mendapatkan istri yang seimbang dalam cara berpikir, istri yang juga tersentuh oleh pendidikan. Maka mulailah didirikan sekolah guru Putri di Asrama Mendut ini. Secara khusus untuk pasangan-pasangan yang katolik diharapkan mereka menjadi pelopor keluarga-keluarga Katolik yang militan dan tangguh, dan diharapkan dari perjodohan ini juga akan lahir imam-imam pribumi. Maka mulailah strategi perjodohan dimulai di dua sekolah itu, anak asrama Xaverius bertemu jodoh dengan anak Asrama Mendut. Dan tradisi ini nampaknya berlanjut sampai sekarang di sekolah-sekolah Katolik yang khusus laki-laki dan khusus perempuan. Di Yogyakarta anak-anak Kolese De Britto membuat acara keakraban dengan anak-anak Stella Duce atau Santa Maria. Di Jakarta ada anak-anak Kolese Kanisius membuat acara keakraban dengan anak-anak Tarakanita atau Anak-Anak Pangudi Luhur membuat acara keakraban dengan Anak-anak Santa Ursula.

 

 

 

Keberadaan Sekolah Mendut dari Tahun 1908 sampai Tahun 1943, itu berarti 35 tahun pernah ada di bumi Indonesia ini, dan realitanya pernah ada masa dimana ada 400an perempuan yang sekolah di tempat itu, pertanyaannya sekarang bagaimana mungkin kita masih bisa mengatakan bahwa perempuan Indonesia pada jaman dulu itu terbelakang dan tak berpendidikan? Mereka semua adalah perempuan-perempuan terdidik, dan pada jaman awal kemerdekaan bangsa Indonesia, para perempuan ini sudah tersebar di seluruh pelosok Indonesia dan mereka menjadi para pendidik anak-anak negeri ini. Realita sejarah ini hampir tak terdengar lagi bersamaan dengan surutnya para alumni Mendut ini. Lalu siapakah yang akan bercerita pada generasi sekarang ini tentang keberadaan sekolah putri yang luar biasa ini?

 

 

 

Mengapa Film ini Perlu Dibuat?

 

Jika film ini harus dibuat maka salah satu yang menarik adalah realita sejarah sekolah itu sendiri. 35 tahun sekolah ini pernah ada di bumi Indonesia ini, dan sekolah asrama ini dihuni oleh ribuan perempuan yang pernah tinggal di situ untuk mengenyam yang namanya pendidikan. Masa-masa sekolah ini berdiri adalah masa-masa yang tidak jauh dari masa hidup RA Kartini yang selalu merindukan sekolah untuk Perempuan Pribumi. Dan di sekolah Mendut inilah sebenarnya cita-cita RA Kartini terwujud, di sekolah inilah mimpi-mimpi RA Kartini menjadi kenyataan. Sekolah perempuan ini berdiri bahkan sebelum Indonesia merdeka. Menjelang kemerdekaan bangsa Indonesia sekolah ini sudah ditutup, tetapi kemanakah para perempuan yang pernah dididik di sekolah Mendut ini?  Mereka menjadi para pendidik di tengah-tengah masyarakat. Ada yang menjadi pendidik di sekolah-sekolah. Ada yang menjadi pendidik bagi keluarga. Ada yang menjadi perawat, ada yang menyusup ke organisasi-organisasi Wanita di Indonesia ini. Intinya mereka menjadi pendidik bangsa ini. Mereka bekerja dalam kesederhanaan, tidak banyak yang mengungkap kisah-kisah mereka. Rm YB Mangunwijaya Pr almarhum pernah menulis Novel Roman Sejarah dengan judul “Balada Dara-Dara Mendut”. Seorang Aktivis Perempuan bernama Iswanti juga pernah membuat penelitian dan menulis tentang Perempuan-Perempuan Mendut ini dengan judul “Jalan Emansipasi: Perempuan Katolik dari Pionir dari Mendut 1908-1943.” Inilah beberapa tulisan yang mengungkap tentang kisah sekolah Mendut ini. Tentu saja masih ada tulisan lain tentang sekolah Mendut yang tersembunyi entah dimana. Para alumni Mendut ini juga masih selalu berkumpul tiap minggu kedua dalam bulan tertentu untuk berdoa bersama dan reuni. Dan sekarang semangat Mendut ini juga masih dilanjutkan oleh generasi penerus mereka yang juga membuat banyak pertemuan di berbagai kota. Realitas sejarah sekolah Mendut itu sendiri sudah sangat menarik.

 

 

Tema pendidikan juga menjadi menarik jika kisah sekolah Mendut ini difilmkan. Kisah-kisah yang selalu diceritakan oleh para ibu alumni Mendut ini selalu sekitar kedisiplinan, dan  kedisiplinan ini juga dirasakan oleh anak-anak mereka yang juga diterapkan dalam keluarga ibu-ibu Mendut ini. Di sisi lain selalu ada kelucuan-kelucuan di tengah kedisiplinan itu, ada kisah-kisah pemberontakan anak-anak pribumi ini. Inilah tegangan Budaya yang sering terjadi antara sekolah Belanda yang mendidik anak-anak Jawa. Perbedaan budaya ini bisa menjadi tema yang menarik untuk dikisahkan.

 

 

 

Disiplin tampaknya menjadi bahasa sekolah Missi Belanda jaman dahulu. Entah mengapa, kedisiplinan ini lalu melahirkan nilai yang disebut kejujuran, ketulusan, solidaritas, dan rasa kemanusiaan yang universal. Tampaknya pendidikan jaman dulu lebih berorientasi pada pendidikan karakter, sebut saja pendidikan melahirkan manusia-manusia dengan perilaku yang baik. Jika kita bercermin dengan dunia pendidikan jaman ini. Tampaknya tolok ukurnya adalah prestasi anak didiknya. Dan sekarang ini banyak sekolah yang mengatakan dirinya sekolah unggulan. Tetapi apa ukurannya sekolah unggul? Dan sekolah-sekolah ini saling bersaing untuk melahirkan anak-anak didik yang berprestasi. Dan kenyataannya di Indonesia ini memang banyak orang pintar, banyak orang pandai, tetapi yang menyedihkan juga banyak koruptor, banyak orang tidak jujur. Kekerasan juga semakin meningkat, solidaritas juga menurun. Pantaskah kita bertanya apakah ada yang salah dengan pendidikan di Negeri ini? Apakah sekolah-sekolah yang unggul ini juga mencetak para koruptor ini? Apakah pendidikan di negeri ini terlalu mementingkan prestasi sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan dan melupakan pendidikan karakter? Inilah negeri para pencuri, inilah negeri para koruptor, salahkan jika beban ini diletakkan di pundak pendidikan di Negeri ini. Untunglah sekarang ini banyak sekolah yang mulai berpikir tentang Pendidikan Karakter untuk memulai sebuah usaha kecil memutus rantai korupsi di negeri ini dan juga mengembalikan budaya solidaritas, saling menghormati satu sama lain, anti kekerasan, rasa cinta pada negeri, yang kiranya menjadi nilai-nilai kemanusiaan yang  penting juga untuk ditanamkan di dunia pendidikan kita.

 

 

 

Jika sekolah ini adalah sekolah perempuan, tentu tema perempuan juga menarik untuk diangkat ke permukaan. Tetapi mungkin pesan tentang perempuan di sini lebih ingin mengungkap banyak kebaikan lahir dari rahim perempuan, dan salah satu dan yang terpenting dari kebaikan itu adalah cinta. Memang tema perempuan di sini tidak terang-terangan melawan dominasi budaya patriarki, tetapi lebih-lebih ingin melihat bahwa Perempuan adalah ibu dari segala kebaikan. Bagaimana pendapat anda? Tidak setuju atau setuju? Mungkin anda sedang berpikir keras? Benar atau lebay?

 

 

 

Penutup

 

Tidak ada yang tahu bahwa malam itu adalah malam terakhir perjumpaan Para Suster dengan murid-murid yang masih tersisa di asrama itu. Di depan api unggun seorang suster duduk bersama seorang murid yang sangat dikasihinya. Pancaran api unggun yang mulai meredup memantul dalam air mata yang menetes di pipik anak jawa itu. Suster berkata, “Jadilah ibu bagi semua orang. Perempuan adalah ibu dari kebaikan. Seorang ibu tidak punya apa-apa selain hanya Cinta.”

 

 

Cuplikan di atas diambil dari salah satu scene dalam Naskah Film Di Tepian Sungai Elo. Tetapi Film itu belum jadi. Scene itu masih ada di benak Sutradara. Perempuan adalah ibu dari Kebaikan. Semoga Film ini segera bisa dieksekusi, mohon doa restu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kamis, 13 Maret 2014,Senthir, berkomentar :
Melihat emansipasi wanita dari sisi yang lain. Semoga dapat difilmkan dan memberi masukan bagi dunia pendidikan di negeri Indonesia tercinta. Tuhan memberkati.
Reply From Administrator
Makasih ya mohon doanya smoga bisa dibuat....