Studio Audio Visual Puskat
  • Hubungi Kami
  • Testimoni
Jumat,21 Februari 2014 03:34 | Artikel | 2489 Views | 2 Comments
Membangun Karakter Sejak Dini

Oleh: Murti Hadi Wijayanto SJ

 

Hati saya gelisah ketika suatu malam saya mencoba dengan sengaja mengikuti sebuah acara di televisi dari jam 7 malam sampai hampir jam 12 malam. Konon acara ini ratingnya sedang tinggi dan menjadi ikon sebuah statiun televisi swasta di Jakarta. Teman-teman saya para penonton televisi, semua membicarakan program ini. Saya pun ikut tertawa ketika menyaksikan tayangan-tayangan awal, tetapi rasa senang saya itu tidak bertahan lama, setelah itu saya merasa boring banget, istilah anak-anak gaul jaman sekarang. Sejenak terbersit dalam ingatan saya akan tulisan Neil Postman, Menghibur Diri Sampai Mati. Sedemikan hauskan orang-orang Indonesia ini akan hiburan sampai harus menonton acara seperti ini selama berjam-jam? Sedemikian beratkah beban hidup masyarakat Indonesia ini sehingga butuh dihibur dengan hiburan semacam ini? Bisa jadi jawabannya adalah ya, tetapi seberapa lamakah kita tahan untuk dihibur seperti ini?

Saya mencoba menyelidiki diri sendiri, mengapa saya gelisah? Yang pertama karena jam tayang acara ini dari jam 7 malam sampai jam 12 malam, waktu 3 jam nonton televisi adalah waktu yang sedemikian massive untuk memborbardir penonton dengan ideologi televisi. Jika orang selama 3 jam terserap nonton televisi itu, pelan-pelan ia menjadi semakin pasif dan pelan-pelan ideologi apa saja yang ada di televisi merasuki alam bawah sadar kita yang akhirnya akan mempengaruhi cara berpikir dan cara bertindak kita. Secara sederhana inilah yang dikatakan sebagai pengaruh televisi yang luar biasa itu.

Masih sekitar jam tayang dari jam 7 sampai jam 12 malam itu adalah waktu untuk anak-anak belajar atau juga waktu intensif untuk keluarga. Bisa juga memang keluarga itu nonton bareng, lalu orang tua bisa juga membimbing anak-anaknya nonton televisi lalu terjadi diskusi yang mendalam. Tetapi seberapa banyak keluarga-keluarga yang melakukan acara nonton televisi seperti ini? Pembicaraan yang mendalam antara orang tua dan anak, saat kesempatan orang tua mengajari anaknya belajar, kesempatan orang tua menjadi semakin dekat dengan anaknya hilang karena semua nonton televisi yang acaranya sepanjang malam tidak habis-habis itu. Orang ingin nonton dan nonton terus sampai habis sampai lupa dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Kegelisahan saya semakin bertambah ketika sekarang ini di acara yang sama itu dihadirkan anak-anak kecil dan mereka ikut menari Goyang oplosan. Sejak kecil anak-anak ini sudah dibiasakan mendengar kata oplosan. Anak-anak kecil sekarang sudah pinter nyanyi Bukak Sithik Joss. Mungkin anak-anak ini tidak paham apa yang dibuka dan apa yang joss, tetapi dalam waktu tidak lama lagi mungkin mereka akan tahu, terjadi penuaan dini melalui lagu-lagu orang dewasa. Belum lagi jika kita menilai gerakan-gerakan dalam goyangan tadi. Tidak bisa dipungkiri menari rame-rame dalam iringan musik live yang hingar bingar memang menggembirakan, hilang stress sejenak, tetapi yang biasanya stress adalah orang dewasa. Anak-anak jangan sampai stress dan harus gembira. Kita sebagai orang dewasa bisa tertawa melihat gerakan-gerakan itu, tetapi kalau ini dipaksakan pada anak-anak, malah bisa stress anak-anak itu. Mereka menari karena dipaksa orang dewasa, dan tidak tahu makna lagu maupun gerakannya.

Dan sebagai orang  yang bekerja di dunia komunikasi, saya senang sejenak melihat acara ini tapi lama-lama prihatin juga. Saya merasa televisi telah kehilangan kreativitasnya. Membuat acara sepanjang 3 jam itu tidak mudah. Tetapi untuk memudahkan, buat saja acara live yang langsung selesai dan tiap hari. Itupun tetap tidak mudah. Saya sering merasa kasihan bahwa artis-artis yang cantik dan ganteng itu sekarang jadi komedian semua. Ada yang berhasil lucu dan ada yang tidak berhasil lucu. Tetapi mereka rela menjadi “gila”, tidak malu pasang tampang bloon, karena inilah dunia peran, dunia acting, semakin “gila” semakin hebat. Dan kelatahan televisi pun terjadi juga, segera di jam tayang yang sama di semua televisi berlomba membuat acara yang hampir sama. Akhirnya televisi-televisi ini saling bersaing memperebutkan penonton demi rating. Akhirnya semua orang menonton acara yang kurang lebih sama di jam yang sama di hampir semua statiun televisi. Orang merindu ada televisi alternatif, karena semua acara televisi hampir sama. Orang ingin dihibur, tetapi semakin nonton televisi semakin boring, mau mati rasanya. Dengan kata lain, sebenarnya dengan hadirnya acara-acara di atas, televisi sudah kehabisan energi, kehabisan kreativitasnya untuk membuat tontonan yang berkwalitas.

  

12 Cerita  Membangun Karakter

  Adalah Studio Audio Visual Puskat yang sejak berdirinya dahulu sudah dididik untuk membuat tayangan-tayangan Audio Visual Alternatif. Dan tahun ini dari SAV Puskat hadirlah 12 cerita Character Building. Cerita-cerita ini memang diperuntukkan untuk anak-anak usia Sekolah Dasar, tetapi tentu saja anak-anak ini tidak berdiri sendiri. Di rumah mereka bersama keluarga. Di sekolah ada Guru dan teman-teman mereka. Maka tayangan ini memang diproduksi untuk ditonton oleh anak-anak besama teman-temannya, bersama para guru, dan keluarga mereka.

 12 cerita ini berupa film-film pendek berdurasi 12 sampai 15 menit. Dan mungkin film-film ini tidak sedasyat Film Soegija yang juga diproduksi oleh SAV Puskat atau film-film pendek lain yang sering menjadi nominasi dalam berbagai festival film. Film-film ini justru menarik dalam kesederhanaannya. Melalui 12 cerita character building ini, SAV Puskat ingin mengembalikan anak-anak pada tema persahabatan yang sederhana, sangat sehari-hari dalam usia anak-anak. Dalam film-film ini kita bisa melihat persahabatan yang sejati, ketulusan cinta orang tua pada anak-anaknya, semangat saling menghormati, semangat solidaritas, kejujuran, saling berbagi, tanggung jawab. Dan semua nilai-nilai yang bagus ini dikemas dalam dunia anak-anak. Di tengah arus perkembangan tehnologi yang membuat manusia-manusia jaman sekarang semakin egois dan asyik dengan diri sendiri ini, nilai-nilai yang ingin ditanamkan dalam film ini menjadi seperti sebuah usaha untuk kembali ke masa lalu, masa dimana semua masih sederhana, tanpa ada gangguan media apapun, manusia kembali ke semangat awal saling terbuka, saling menyapa, dan di situlah tumbuh semangat cinta, semangat saling menghormati satu salam lain, dan ujung-ujungnya adalah persahabatan yang sejati.

Mengutip Nota Pastoral yang dikeluarkan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) beberapa tahun yang lalu tentang Habitus Baru, maka pembangunan karakter ini memang penting dilakukan sejak dini. Sebut saja seandainya Korupsi ini sudah menjadi penyakit parah di Indonesia ini, maka pemberantasannya harus dimulai sejak anak-anak. Orang-orang dewasa di Indonesia ini sudah terkontaminasi oleh segala yang berbau korupsi. Meskipun tetap ada orang-orang yang jujur dan tidak melakukan korupsi, tetapi mereka terkena dampaknya dari dosa korupsi yang merajalela di negeri ini. Seperti dosa asal dalam konsep Gereja Katolik, semua orang dewasa ini terkena imbas dosa korupsi. Maka jika ingin memberantas korupsi, kita seperti harus “membunuh” satu generasi yang sudah dimakan kanker korupsi. Usia anak-anak SD dianggap masih bisa bersih jika ia sungguh-sungguh dididik dengan benar soal kejujuran, baik di dalam keluarga maupun di sekolah. Maka sangat bagus jika di sekolah-sekolah itu sungguh-sungguh mulai dikampanyekan anti menyontek. Menyontek adalah awal ketidak jujuran. Jika anak-anak ini sejak kecil mulai menyontek, sebenarnya ia sudah mulai belajar jadi koruptor saat dewasanya nanti. Dan kisah inipun juga disinggung dengan jenaka dalam salah satu film dari 12 cerita pembangunan karakter ini yang berjudul Seindah Cinta Rembulan. Maka sangatlah tepat jika film-film pendek ini diproduksi untuk anak-anak usia Sekolah Dasar karena memang pembangunan karakter harus mulai sejak dini, pemberantasan segala penyakit orang dewasa harus mulai sejak dini.

 

Semuanya Berawal Dari Cinta

 Seluruh kisah dalam 12 cerita pembangunan karakter ini hampir semuanya tentang pertemanan. Kisah-kisah ini ditulis oleh para penulis naskah dari SAV Puskat dengan tehnik penceritaan yang sangat beragam. Kisah Terima kasih, Dik memakai pendekatan positif, digambarkan bagaimana secara orang tua mengajari anak tentang tanggung jawab, tentang solidaritas pada yang berkekurangan. Demikian juga misalnya dengan kisah Hari Kartini, bagaimana kisah kemandirian anak difable ditonjolkan di kisah ini, tapi ada satu saat dimana dia tidak bisa melakukannya sendiri. Maka teman-temannya berinisiatif membuat anak difable ini bisa bahagia bersama mereka. Sebuah kisah solidaritas dan persahabatan yang menyentuh. Ada juga kisah-kisah yang menggunakan tehnik perbandingan seperti misalnya seperti dalam kisah Seindah Cinta Rembulan yang membandingkan antara anak yang merasakan cinta dalam keluarganya dan anak yang hidup dalam bayang-bayang konflik orang tuanya, akan berbeda dalam berperilaku di lingkungannya. Ada yang memakai pendekatan konflik seperti misalnya tentang Jathilan juga oke lho dan juga kisah Bahasa Daerah, aku bisa. Perbedaan-perbedaan budaya sering kali membuat anak-anak kesulitan dalam bergaul, ada yang menjadi sombong, ada yang menjadi minder dan jadi takut masuk sekolah. Tetapi di film-film ini semua bisa diselesaikan dengan indah. Di sinilah anak-anak belajar menghargai perbedaan. Juga misalnya pergaulan yang berbeda antara anak kota dan anak desa saat liburan di rumah nenek, anak-anak yang tulus ini menjadi semakin terbuka dengan perbedaan dan bisa bersahabat dengan baik. Kisah ini ada dalam film Liburan Di Rumah Nenek. Ada juga yang dikisahkan dengan tehnik negatif, dalam arti peran antagonisnya ditonjolkan sehingga justru bisa mengaduk-aduk perasaan lalu orang justru akan bertanya mana yang baik dan mana yang tidak baik. Nah ini Pekerjaan Rumah untuk para penonton ketika menyaksikan kisah PR Reni. Maka istilah Pekerjaan Rumah atau PR itu bisa menjadi judul yang multi-tafsir. PR itu bukan hanya PR nya Reni, tetapi juga PR nya orang tua, dan PR kita semua para penonton. Dan masih ada lagi beberapa kisah yang sebaiknya ditonton sendiri daripada saya ceritakan di sini.

 Hampir seluruh kisah dalam 12 cerita ini bertemakan pertemanan atau persahabatan. Inilah dunia anak-anak. Dunia anak-anak adalah dunia bermain, dunia senang punya teman banyak. Dan di dalam lingkungan bermainnya itu ada keluarga, ada sekolah dengan semua anak-anak dan guru yang menjadi lingkungan mereka sehari-hari. Jika ditarik benang merah dari semua kisah ini, ujung-ujungnya semua karena cinta. Dan cinta itu pertama-tama dirasakan oleh anak-anak di dalam keluarganya. Anak-anak yang tumbuh dalam cinta di dalam keluarga akan mendapatkan pengalaman positif dalam masa-masa pertumbuhannya. Jika anak-anak ini mendapatkan cinta, ia juga bisa mencintai orang lain dengan baik. Dari sinilah ia belajar bersosialiasi dengan orang lain. Dari cinta dalam keluarga ini dia bisa belajar solider dengan teman yang difable, bisa belajar memaafkan teman yang nakal, belajar menghargai perbedaan, belajar saling menghormati orang lain. Dalam kisah Semua Cinta Dini para orang tua ini disindir dengan cerdas. Orang tua yang sibuk, semua urusan anak-anaknya diserahkan pada pembantu rumah tangga. Dan menghargai orang lain termasuk orang yang paling dekat dalam sebuah rumah tangga yaitu pembantu juga menjadi hal yang penting. Dalam kisah Hantu juga digambarkan bagaimana orang tua yang sibuk dan meninggalkan anaknya sendirian di rumah. Acara televisi yang suka menakut-nakuti penonton ini juga dipertanyakan dalam kisah yang lucu ini. Dan perhatian orang tua dan kemandirian seorang anak memang menjadi tegangan yang harusnya bisa selalu seimbang.

Film hanya berhenti menjadi sebuah film jika hanya ditonton, puas, lalu selesai. Pedagogi Film sebenarnya terjadi pada saat diskusi setelah nonton film itu. 12 cerita pembangunan karakter ini juga dilengkapi dengan buku panduan yang bisa dipakai untuk diskusi setelah film ini ditonton. Di dalam diskusi inilah sebenarnya terjadi pendalaman, disinilah terjadi orang mulai mengambil nilai-nilai yang ada di dalam film. Dan inilah yang sebenarnya disebut sebuah refleksi, mengumpulan nilai-nilai yang diambil dari sebuah pengalaman. Semua pengalaman sebagus apapun, kalau tidak pernah direfleksikan, pengalaman itu akan berlalu begitu saja. Tidak ada nilai yang diendapkan, tidak ada nilai yang diambil untuk dijadikan pegangan dalam kehidupan selanjutnya. Kalau pengalaman itu buruk dan tidak pernah direfleksikan, bisa jadi orang akan jatuh di lobang yang sama. Dalam konteks inilah 12 cerita pembangunan karakter ini sejalan dengan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) yang sedang digiatkan oleh para pegiat pendidikan terutama di lingkungan sekolah Katolik di Indonesia ini. PPR ini intinya ada pada kata reflektif. Apapun pelajarannya jika itu semua direfleksikan, maka ada banyak nilai yang bisa diambil di situ. Siswa-siswa tidak lagi hanya mengejar nilai 9 atau 10 untuk suatu prestasi,tetapi lebih-lebih nilai untuk hidup. Dan nilai untuk hidup itu adalah persahabatan, solidaritas, cinta, saling menghormati, saling menolong. Dan di sinilah sebenarnya terjadi dialog antar siswa itu sendiri, siswa dengan guru, dan juga siswa dengan orang tua dan keluarganya. Film-film ini juga menjadi bagian dari dialog itu, antara siswa, teman-teman yang lain, guru dan sekolah, orang tua dan keluarga. Pendidikan menjadi lebih integral karena tidak dipilah-pilah antara sekolah dan keluarga, tetapi pendidikan itu ada di sekolah dan keluarga dan di tengah-tengah masyarakat.


Penutup

SAV Puskat bukan pertama kalinya membuat 12 cerita Pembangunan Karakter ini. Awalnya adalah penelitan Doktoral MG. Adiyanti, seorang dosen Psikologi di Universitas Gajah Mada yang menggandeng SAV Puskat untuk membuat 5 cerita yang berbasis membangun karakter anak. Film-film pendek ini diujicobakan di beberapa sekolah dan mendapat sambutan yang baik dari sekolah-sekolah. Usaha ini sangat inspiratif, maka SAV Puskat mengulangi lagi usaha ini. Kali ini SAV Puskat bekerja sama dengan 4 lembaga Serikat Yesus yaitu dengan Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta yang akan bertanggung jawab pada kurikulum PPR-nya, dengan Penerbit Percetakan Kanisius yang akan bertanggung jawab pada penerbitan bukunya, dan Universitas Sanata Dharma yang akan bertanggung jawab pada isinya. Semua kisah ditulis oleh para penulis naskah SAV Puskat dengan supervisi dari Universitas Sanata Dharma. Film-film ini diproduksi oleh SAV Puskat dan eksekusinya dilakukan oleh para sutradara dari SAV Puskat. Film-film ini sendiri sebenarnya sudah diproduksi 4 tahun yang lalu. Para pemain anak-anak ini sekarang sudah duduk di bangku SMA semuanya. Dan produksi ini didukung oleh Jesuit Mission Prokurator dari Jerman dan Missio Austria. Sekarang film itu sudah ada, dan buku juga sudah jadi, lengkap menjadi satu paket. Inilah saatnya SAV Puskat mengatakan…..Launching… Selamat menyaksikan dan selamat berefleksi.

 

 

 

Jumat, 21 Februari 2014,didik oik handoko, berkomentar :
Apakah kami bisa memilikinya DVD nya? matur sembah nuwun
Reply From Administrator
Bisa pak Didik..silakan pesan via office@savpuskat.or.id. terimakasih.
Senin, 24 Februari 2014,kristi, berkomentar :
Bisa pak Didik..silakan pesan via office@savpuskat.or.id. terimakasih.