Studio Audio Visual Puskat
  • Hubungi Kami
  • Testimoni
Sabtu,24 Mei 2014 09:14 | Artikel | 6201 Views | 0 Comments
Motivasi dan Kecerdasan Emosional diperlukan untuk Kerja Tim  (Team Work)

Oleh: FX. Tri Mulyono

 

Manusia makhluk multidimensi yang unik ditandai dengan adanya “motivasi”.

Menurut Aries Toteles (Filsuf Yunani) manusia adalah makhluk individual sekaligus sosial. Dari sinilah kita sepakati istilah manusia makhluk dua sisi. Dalam pandangannya, individualitas dan sosialitas manusia tercapai dan terpenuhi karena adanya pembauran atas keduanya. Manusia mengenali jati dirinya karena dia telah, sedang dan akan bersama orang lain. Dengan mengenali jati dirinya manusia disadarkan bahwa dirinya bagian dari orang lain.

Ketika manusia sadar bahwa dirinya menjadi bagian dari orang lain tentu dia akan terjun, terlibat dalam pergumulan hidup bersama orang lain. Ketika itu pula manusia memberikan sesuatu namun sekaligus mendapatkan sesuatu pula bagi dan dari orang lain. Dengan memberi manusia akan mendapatkan sesuatu. Dengan melepaskan sesuatu yang ada padanya, dia akan mendapatkan sesuatu yang belum ada padanya. Persis pada titik inilah manusia mengalami perkembangannya sebagai pribadi yang dewasa. Dengan demikian sesungguhnya manusia itu saling melengkapi dan dilengkapi.

Dalam perjalanan waktu seiring dengan pergumulannya, setiap manusia mempunyai keunikannya sendiri dalam hal “bersosialisasi”. Sejenak menengok jaman kita sekarang, di mana kita dikelilingi oleh teknologi “dunia maya” (teknologi jejaring/internet). Di zaman sosial media  (sosmed) ini pertemuan kita tidak lagi berhadapan secara fisik langsung. Terhalang oleh media. Kita dapat berinteraksi dengan manusia belahan mana pun di muka bumi ini. Bahkan ketika Anda sedang membaca artikel ini (sadar atau tidak) Anda sedang ”berjumpa dengan saya” melalui internet. Mungkin juga Anda saat ini sedang duduk bersebelahan dengan rekan Anda dan teman itu Anda ”tinggalkan” sejenak (kepo ach,,,). Paling tidak, jika kita menghendakinya; kapan pun dan di mana pun, kita bisa melakukan kegiatan dalam dunia maya, dunia digital. Ini artinya bahwa teknologi komunikasi cellular, digital dapat menjauhkan yang dekat, dan mendekatkan yang jauh.

Melihat kenyataan ini kita dapat mengajukan pertanyaan, bagaimana dengan sesamaku yang berada di sisi kiri kananku ini? Sudah seimbangkah pergaulan dunia mayaku dengan dunia nyataku? Atau apabila memang lebih banyak ke dunia realitas, sudah cukup memberi artikah kehadiran kita bagi sesama?

 

Bila kita tarik ke pembicaraan realitas nyata kita, sebenarnya di lingkungan kecil kita sendiri, masih ada yang dapat kita harapkan. Dalam konteks team work keterangan di atas akan sangat terasa sekali. Betapa orang lain itu sangat penting sekali. Sekaligus betapa berharganya diriku bagi orang lain. Adanya team (tim) karena adanya kesadaran dari setiap individu untuk bersama-sama hadir dan saling melengkapi. Di sinilah kualitas diri seseorang dipertaruhkan namun juga dikembangkan. Apa yang dipertaruhkan, yakni kemampuan berbagai aspek di dalam diri kita, seperti kecerdasan  intelektual (IQ), kecerdasan emocional (EQ), kecerdasan spiritual (SQ), dan kecerdasan sosial (SQ). Inilah letak multi dimensinya manusia. Dalam hal ini konsentrasi kita lebih pada kecerdasan emocional dan sosial.  

 

 

Mengapa demikian? Karena dua (atau 3) faktor (EQ/SQ, Soc Q) inilah motivasi seseorang muncul menjadi ada, mewujud dalam interaksinya dengan lingkungan sosialnya (masyarakat). Meskipun tidak menutup peluang bahwa faktor intelektual juga turut memberikan andil dalam hal motivasi.

Menurut Penelitian Daniel Goleman (2002) keberhasilan orang-orang sukses lebih banyak ditentukan oleh kecerdasan emosional yang mereka miliki  mencapai 80%, sedangkan kecerdasan intelektual hanya berperan 20% dalam kesuksesan mereka.

 

Apa ciri-ciri orang yang memiliki kecerdasan emosional?

 

  1. Tidak merasa bersalah secara berlebihan.
  2. Tidak mudah marah.
  3. Tidak dengki, tidak iri hati, tidak benci dan tidak dendam kepada orang lain.
  4. Tidak menyombongkan diri.
  5. Tidak minder.
  6. Tidak mudah mencemaskan akan sesuatu.
  7. Mampu memahami diri orang lain secara benar.
  8. Memiliki jati diri.
  9. Berkepribadian dewasa secara mental.
  10. Tidak mudah frustasi.
  11. Memiliki pandangan dan pedoman hidup yang jelas berdasarkan kitab suci agamanya. (dalam tulisan Ir. Abosaloni Gulo, MM)

Apabila seseorang memiliki kecerdasan emosional hal ini akan berpengaruh pada tataran kehidupan bersama orang lain (sosial). Kecerdasan sosial senantiasa terasah ketika dia berinteraksi, bergumul dalam kebersamaannya dengan orang lain. Sebagai contoh pada sikap tidak minder (point 5 di atas). Seseorang merasa minder biasanya ketika dia berhadapan dengan orang lain. Memandang orang lain seakan-akan lebih (segalanya) dari padanya. Dirinya dipandang seolah-olah lebih rendah dari pada orang yang dihadapinya. Berarti dalam diri orang tersebut ada sesuatu yang belum “beres”, yakni soal menerima diri apa adanya. Ketika kita mampu menerima diri apa adanya (bukan asal nrimo lho) kita pun juga akan mampu menerima orang lain sebagaimana adanya, bukan sebagaimana seharusnya. Bahwa adanya kita adalah memiliki kekurangan dan kelebihan.

Masalahnya adalah, kecenderungan kita untuk selalu memakai ukuran orang lain ke dalam diri kita sendiri (sikap minder). Sebaliknya, memakaikan ukuran diri sendiri untuk orang lain (sikap tinggi hati/sombong). Jadi ada dua titik ekstrim yang sangat merugikan: seseorang rendah diri dapat berakibat minder, dan terlalu over confidence akan menghasilkan sikap sombong. Keduanya sama-sama merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Namun di sisi lain ketika seseorang memiliki kemampuan mengelola emosinya secara baik, maka dia memandang orang lain pun secara positif.

 

 

Mengapa kecerdasan emosional perlu diperbaiki?

 

 

Menurut Joan Beck, kecerdasan intelektual atau IQ pada usia anak kurang dari 5 tahun sudah terpenuhi IQ 50 % dan di akhir remaja (kira-kira umur 20 tahun) hanya tinggal 20% lagi dari IQ yang bisa ditingkatkan. Sedangkan kecerdasan emosional atau EQ BISA DITINGKATKAN SEPANJANG MASA.

 

 

 

Bagaimana Caranya?

 

Menurut Patricia Patton (2002) Cara mengelola emosi sebagai berikut:

  1. Belajar mengidentifikasikan apa yang biasa memicu emosi kita dan response apa yang kita berikan dengan demikian kita mengetahui apa yang seharusnya diubah.
  2. Belajar dari kesalahan sehingga mengetahui hal mana yang mau diperbaiki.
  3. Belajar membedakan segala hal yang terjadi di sekitar kita maka diketahui mana yang memberikan pengaruh dan mana yang tidak berpengaruh sehingga batin kita tenang.
  4. Belajar untuk mempertanggungjawabkan setiap tindakan kita.
  5. Belajar untuk mencari kebenaran.
  6. Belajar untuk memanfaatkan waktu secara maksimal.
  7. Belajar untuk menggunakan kekuatan sekaligus kerendahan hati dan tidak merendahkan orang lain.

Menurut Taufik Bahanudin (2001) cara mengelola emosi dengan:

  1. Melakukan tindakan yang bersifat humor yang menyegarkan.
  2. Mengarahkan kembali energi emosi yang bergolak.
  3. Berusaha mengambil istirahat atau penyenangan diri (relaksasi).

 

8  Perintah Jangan

Sehingga terhadap orang lain tindakan kita :

  1. Jangan runtuhkan kerja anggota tim/teman/bawahan dengan mengabaikan prestasi mereka.
  2. Jangan menggunakan intimidasi untuk meningkatkan semangat teman/bawahan.
  3. Jangan gunakan konsultan dari luar untuk menjatuhkan teman/bawahan.
  4. Jangan berusaha memberikan pelayanan dengan mengabaikan cara orang lain (sok hebat atau ambil muka).
  5. Jangan ciptakan harapan yang tak realistis dengan orang lain.
  6. Jangan meminta melebihi dari apa yang anda bisa berikan kepada orang lain.
  7. Jangan memanipulasi atau memaksakan agar orang lain patuh.
  8. Jangan ingkar janji.

 

 

Bagaimana cara mengembangkan diri agar menjadi efektif ? 

 

 

Menurut Jill Daan (2002) perlu melakukan :

  1. Pengaturan diri, Mengontrol implus yang produktif, tenang, berpikir positif, tidak bingung menghadapi masalah, mengelola emosi yang menyusahkan, mengurangi rasa cemas, berpikir tenang dan fokus.
  2. Keaslian, jujur pada diri sendiri dan orang lain, percaya diri, berlaku etis, mengakui kekurangan, menerapkan nilai-nilai keluhuran dan mengantisipasi kesalahan yang sering terjadi.
  3. Kehandalan, menerima tanggung jawab dan menghargai prestasi/kinerja orang lain.
  4. Fleksibilitas, memahami dan adaptif terhadap perubahan.
  5. Memotivasi diri sendiri sehingga terus bersemangat. (Ir. Abosaloni Gulo, MM)

 

Memotivasi diri sendiri? Apa itu?

 

Dalam penjelasan motivasi ini saya adaptasikan dari tulisan Sardiman A. M “Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar,” Jakarta: Rajawali Pers, 2009, hal. 102 – 103. Selanjutnya saya kembangkan sendiri.

            Motivasi berpangkal dari kata “motif” yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Ada tiga elemen atau ciri Pokok dalam motivasi yakni 1) motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi, 2) ditandai dengan adanya feeling dan  3) dirangsang karena adanya tujuan.

            Karena sebagai yang memberi daya dan penggerak, maka motivasi memberikan arah dalam mencapai tujuan sekaligus menjamin adanya ketahanan dalam hal pencapaiannya.  Tidak lekas bosan, tidak mudah jatuh dalam kesulitan dan membuat seseorang menjadi struggle (memiliki daya juang).

            Motivasi selalu berkaitan dengan kebutuhan. Ada beberapa jenis kebutuhan, misalnya: kebutuhan untuk menyenangkan orang lain, kebutuhan untuk mencapai hasil, kebutuhan untuk mengatasi kesulitan. Sehubungan dengan itu, timbullah beberapa teori motivasi yang berpangkal pada kebutuhan, yakni kebutuhan filosofis, ingin rasa aman, cinta kasih, mewujudkan diri sendiri.

            Ada beberapa ciri tentang motivasi antara lain: tekun menghadapi tugas, ulet menghadapi kesulitan, menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah, lebih senang bekerja mandiri, tidak cepat bosan pada tugas-tugas yang sifatnya rutin/mekanis.

            Fungsi motivasi adalah untuk mendorong manusia melakukan sesuatu, menentukan arah laku/perbuatan, mencapai tujuan dan menyeleksi perbuatan yakni perbuatan mana yang akan dikerjakan.

 

            Motivasi dapat diklasifikasikan: dilihat dari dasar pembentukkannya yakni motivasi bawaan dan motivasi yang dipelajari . Menurut pembagian Woodworth dan Marquis terdiri dari: motivasi karena kebutuhan organis, motivasi darurat dan motivasi objektif. Ada juga motivasi jasmaniah dan rohaniah. Di samping itu ada juga motivasi intrinsik dan ekstrinsik.   

 

 

 

Inga

 

Kerja sama tidak sama dengan kerja bersama-sama.