Studio Audio Visual Puskat
  • Hubungi Kami
  • Testimoni
Selasa,01 Juli 2014 10:34 | Artikel | 1617 Views | 0 Comments
Menggali Nilai Teater Rakyat

Oleh: FX. Tri Mulyono

 

Belajar Teater Rakyat berarti memaknai dua kata tersebut, Teater dan Rakyat

 

 

Pada makna Teater;

Teater sebagai ruang untuk mengekspresikan rasa keindahan diri manusia. Apa yang diekspresikan? Mengapa perlu mengekspresikan rasa keindahan? Mengapa diekspresikan dengan cara-cara yang indah/seni teater? Untuk apa manusia merasa perlu berekspresi melalui pendekatan teater?

Sederet pertanyaan tersebut menuntut jawaban yang tidak mudah segera ditemukan jawabannya. Melalui pertanyaan-pertanyaan itulah kita coba menelusuri pentingnya kita belajar teater.

Sebagai mana umum ketahui bahwa teater itu seni laku tentang kehidupan. Dia tampil tidak secara sendirian. Dia memiliki disiplin atau kaidah-kaidah yang mengikatnya. Maka kepentingan belajar teater berarti kita belajar:

 

  1. Menyadari diri akan potensi rasa keindahan

Setiap pribadi manusia mempunyai rasa keindahan.  Teater yang mengarahkan diri pada seni pertunjukan sangat memperhatikan bagaimana agar dalam pertunjukan itu mampu memikat penonton. Kuncinya adalah “menarik”. Elemen-elemen menarik berarti kita mesti memperhatikan, tutur kata, gerak-gerik tubuh, penampilan keseluruhan untuk mengungkapkan cerita (kehidupan) agar dapat terkomunikasikan kepada orang lain. Dengan menyadari rasa keindahan, tiap pribadi diajak ke sebuah sikap menghargai dan menghormati nilai-nilai kehidupan yang indah (baca=mulia) baik pada diri sendiri maupun terhadap orang lain.

 

  1. Teater itu berkomunikasi

Esensi dari sebuah komunikasi adalah adanya kesamaan makna antara komunikator dan komunikan. Untuk dapat menemukan makna itu diperlukan kemampuan diri untuk mengkomunikasikan. Merujuk pendapat Harold D. Laswell komunikasi berarti Siapa mengatakan Apa Dengan Saluran Apa Kepada Siapa Dan Akibatnya Apa. Mengingat pendapat tersebut maka tepatlah teater sebagai wahana untuk mengasah diri dalam kemampuan berkomunikasinya.  Jelas bahwa dalam teater diperlukan kemampuan bicara yang jelas tentang isi cerita (bicara yang terstruktur), kepada siapa dia bicara (penonton dan lawan main), melalui kemampuan oral (bahasa verbal) dan bahasa tubuhnya dia berusaha agar yang ia sajikan jelas dapat ditangkap oleh lawan mainnya maupun penonton.

 

  1. Belajar dan bermain teater berarti bergumul bersama orang lain

Mengasah kemampuan bersosial sekaligus berinteraksi secara interpersonal. Dalam pergumulan bersama itu setiap pribadi dihadapkan pada pengalaman pemaknaan: Siapa diriku bagi orang lain, Pentingnya kehadiran orang lain bagi diriku, bagaimana sebaiknya hidup bersama orang lain, untuk apa manusia perlu berinteraksi. Semua ini akan terjawab di dalam wadah berteater, karena semua ini menjadi syarat mutlak dalam bermain teater. Paling tidak ketika seorang diri tampil mengeksresikan diri di hadapan penonton, berarti dia tampil di depan orang lain. Penonton adalah orang lain yang hadir bagi dirinya bukan?

 

  1. Berteater, memberi ruang berkreasi, berimajinasi dan bereskpresi

Kuncinya adalah kebebasan. Ketika orang tidak terikat oleh keinginan diri yang membelenggunya bahkan kepentngan dari orang lain berarti orang ini bebas. Kebebasan senantiasa menjadi modal awal untuk berkreasi, berimajinasi dan berekspresi. Dia “bebas” mengembara ke alam imaji, dan dengan daya kreasinya dia mengekspresikan apa saja yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.

 

  1. Berteater, mengajak pelakunya untuk merenung tentang kehidupan

Sumber atau materi yang disajikan dalam berteater selalu tentang kehidupan. Benar, bahwa teater ini (teater rakyat) bicara tentang kehidupan manusia yang sdang gelisah dengan dirinya, di tengah sesamanya, di alam semesta bahkan dengan Sang Penciptanya.

 Pada makna Rakyat,

Secara singkat dapat dikatakan bahwa teater rakyat memgarahkan diri pada sebuah visi hidup yang berpihak kepada rakyat kecil (miskin, tersingkir). Sikap seperti ini lambat laun meluntur bagi kebanyakan orang, apalagi situasi zaman yang serba susah, membawa sebuah sikap yang terus-menerus menggerus untuk tidak peduli terhadap orang kecil. Berpihak pada kaum kecil secara materi dan kenyamanan hidup tidak memberi apa pun, malah cenderung penuh risiko yang tidak kecil bagi dirinya. Tetapi bagi orang Kristiani yang mengaku diri mengimani Yesus Kristus yang berpihak pada kaum kecil, bukankah seharusnya memang hal ini juga menjadi sikapnya?

      Dari balik uraian kecil ini kerakyatan dapat kita maknakan:

 

  1. Berpihak pada orang kecil (miskin, terpinggirkan)
  2. Bersikap kritis terhadap ketidakadilan sosial
  3. Berani bertindak atas dasar nilai-nilai kebenaran
  4. Menjadi aktif di lingkungan masyarakat tidak sama dengan menjadi aktivis yang menghadirkan diri  di tengah masyarakatnya terdorong karena demi eksistensi dirinya.
  5. Berteater memang dekat dengan degup sorak sorai, riuh rendah tepuk tangan para penonton. Persis pada saat itulah dirinya ditantang untuk berani bersikap menjadi pribadi yang rendah hati di hadapan sesamanya, sekaligus mensyukuri atas talenta pada dirinya, dan semua itu diarahkan demi kemuliaan Tuhannya.