Studio Audio Visual Puskat
  • Hubungi Kami
  • Testimoni
Selasa,01 Juli 2014 10:45 | Artikel | 4605 Views | 1 Comments
Menyingkap Semangat Teater Rakyat Membangun Sikap Kritis Masyarakat

Oleh: FX. Tri Mulyono

 

Panorama Awal:

Teater Rakyat yang dimaksudkan dan Teater Rakyat Tradisional

Kalangan umum memahami, teater dimengerti sebagai seni pertunjukan. Namun Teater Rakyat dalam arti yang akan kita bicarakan ini bukan sekedar seni pertunjukan, tetapi lebih-lebih merupakan seni yang ingin mengungkapkan realitas, dengan menganalisis struktur dalam masyarakat. Ini berbeda dengan teater rakyat tradisional.

Maka hal pertama yang perlu kita perhatikan adalah mengenali batasan antara “Teater Rakyat” yang hendak kita bicarakan dalam tulisan ini dengan “Teater Rakyat Tradisional” yang dimengerti masyarakat kebanyakan. Keduanya hidup dan ada dalam masyarakat kebanyakan. Keduanya sama-sama tidak terlalu dibebani muatan berkesenian yang muluk-muluk. Artinya, keduanya menampilkan bentuk kesenian yang mudah ditangkap maknanya.

Ragam laku dan gerak diekspresikan secara sederhana, wawankata diucapkan dengan bahasa yang paling banyak dan mudah dimengerti lingkungannya. Aspek artistik, tata busana/kostum, make up, tata lampu dan musik tidak terlalu dirisaukan. Tempat berpentas pun bisa dilakukan di mana saja. Dekorasi dan perlengkapan boleh saja bersahaja, sesuai dengan keadaan dan kemampuan masyarakat (rakyat) yang bersangktan. Dengan demikian  suasana keakrabanlah (sebuah pesta) yang tampak.

 Teater adalah sebuah “Pesta”

Memang pada awalnya teater rakyat adalah sebuah “pesta”. Di mana dalam pesta tidak ada batasan antara pemain dengan penonton. Artinya, suatu kesempatan/peristiwa bagi rakyat untuk mengungkapkan diri lewat cerita, gerak, nyanyian dan tari dengan diiringi bunyi-bunyian. Di dalam pesta orang merasa gembira, kreatif, dan optimis.

Bukan pesta yang memabukkan, tetapi membuat orang semangat untuk maju terus menghadapi persoalan. Di dalam pesta ini setiap orang diberi kesempatan untuk mengungkapkan perasaan dan ide mereka secara kreatif. Bahkan para penonton pun boleh terlibat. Semua ikut berbaur dan terlibat dalam sebuah “pesta” (baca=pertunjukan).

 

Perbedaan mendasar ada pada “orientasinya”.

Inilah semangatnya!

Meski banyak persamaannya, namun jika kita lihat lebih dalam, maka segera kita temukan letak perbedaannya, yaitu ada pada “orientasinya”. Teater rakyat tradisional, meski hidup dan tumbuh di masyarakat tradisional, namun penceritaan masih bersemangatkan elit. Lebih suka menjadikannya sebagai media propaganda untuk kepentingan kelompok elit tertentu. Tokoh “penguasa” (entah itu namanya protagonis atau “role”-nya) sering kali didudukkan pada orang yang bijak dan mampu mengatasi situasi. Menjadi penyelamat atas nasib tokoh lemah. 

Karena itu jika kita runut lebih lanjut, atas dasar apa cerita (masalah) ditampilkan. Siapa saja yang melakonkan, berpihak kepada siapa seluruh penceritaannya. Apakah mengajak dan membawa ke arah perubahan ataukah ke arah kemapanan? Inilah yang dimaksudkan dengan perbedaan pada orientasinya. Untuk memperjelas orientasi tersebut, sekaligus menjadi semangat dari teater rakyat, berikut ini saya sadurkan tulisan Pater Ruedi Hofmann SJ:

“Tidaklah cukup kalau teater itu hanya menyampaikan pengetahuan dan mencerminkan kenyataan hidup. Teater kami harus menimbuklkan kenikmatan dalam usaha mencari pengertian dan kesenangan dalam usaha mengubah dunia.” (Bertolt Brech: 1898 – 1956).


Dengan kata-kata ini Bertolt Brech memberi kesimpulan mengenai makna teater baru yang kini lazim disebut “teater rakyat”. Yang dimaksudkan dengan “usaha mencari pengertian” adalah suatu aktivitas rakyat kecil atau kaum tertindas untuk menganalisis struktur masyarakat, supaya kontradiksi-kontradiksi atau kepincangan-kepincangannya semakin jelas. Kalau masalah yang dihadapi itu pengangguran kaum muda, misalnya,  teater rakyat itu tidak akan puas hanya dengan menceritakan pengalaman pengangguran saja atau bahkan hanya memberi nasihat murah yang tidak berguna. Tetapi sebaliknya penonton diajak bersama-sama meneliti sebab-sebab dan asal-usul pengangguran, bukan sekedar asal tahu saja, melainkan struktur yang menyebabkan pengangguran itu dapat diubah, yaitu dengan “mengubah dunia.” 

Meskipun Bertolt Brech mengaku diri sebagai orang yang “tidak beragama”, namun dalam semangatnya berteater terungkap suatu iman yang mendalam, yaitu bahwa kebenaran ada di pihak kaum tertindas dan bahwa orang-orang kecil akan dibenarkan kalau masyarakat dianalisis dengan sungguh-sungguh. Dia pun percaya bahwa struktur yang menyebabkan kondisi masyarakat menderita seperti sekarang ini karena ketidakadilan, bukanlah struktur yang harus kita terima, melainkan sesuatu yang dapat diubah.

Di Eropa teater sering dilihat sebagai kebudayaan milik kaum elite. Tetapi oleh Bertolt Brech teater itu dikembalikan kepada rakyat, karena dia merasa bahwa hanya rakyat kecil memiliki pengertian yang benar mengenai dunia. Di Indonesia terdapat banyak kesenian rakyat. Khususnya di Jawa dan Bali drama tradisional masih cukup populer di antara rakyat kecil, agak berbeda dengan teater elite yang dikritik oleh Bertolt Brech.

Hanya saja dalam drama tradisional tersebut belum tentu terungkap suatu pengertian tentang dunia yang berdasarkan analisis rakyat kecil. Seringkali unsur feodalisme masih kuat di dalamnya, sehingga teater itu tidak mampu “menimbulkan kenikmatan dalam usaha mencari pengertian” apalagi “kesenangan dalam usaha mengubah dunia”. Meskipun teater tradisional itu digemari oleh rakyat, namun orientasinya sebenarnya berasal dari penguasa.

Menarik perhatian bahwa Bertolt Brech memakai istilah “kenikmatan”. Memang teater rakyat itu memiliki ciri sebuah pesta di mana baik para pemain maupun para penonton membuat sesuatu yang menggembirakan. Namun kegembiraan ini jauh berbeda dari kegembiraan di dalam masyarakat konsumtif, di mana orang harus membeli sesuatu untuk kemudian baru merasa nikmat.

Kegembiraan komersial itu sesungguhnnya kegembiraan palsu, karena orang merasa nikmat bukan karena mereka telah menemukan kebenaran dan bersama-sama melakukan keadilan, melainkan sebaliknya melalui kenikmatan kenyataan hidup dilupakan dan sistem yang tidak adil itu diterima sebagai sesuatu yang tidak dapat diubah. Jadi kegembiraan komersial membuat orang melarikan diri dari masalah hidupnya dan tidak memberi keberanian untuk menghadapinya. Maka kegembiraan komersial perlu didobrak. Justru itulah yang diusahakan oleh teater rakyat. (Ruedi Hofmann SJ, dalam majalah Rohani, Juni 1988).

 
Panorama Selanjutnya

Wajah Teater Rakyat di jaman Televisi:

 

Masih Bersemangatkah? 

Mesti diakui bahwa saat ini budaya “gambar” dan “suara” (media audio visual) terasa sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat kita. Dulu tahun 1970an, kita bisa menghitung berapa orang yang punya pesawat televisi dalam satu kampung? Dibandingkan dengan tahun 2000an, berapa orang yang memiliki pesawat televisi. Kenyataan ini membuktikan bahwa gairah masyarakat untuk menikmati televisi sedemikian tingginya.

Lalu orang bersemangat untuk memilikinya sendiri. Belum lagi VCD/DVD yang begitu mudah dan murahnya didapat di pasaran. Betapa dahsyatnya perkembangan teknologi audio visual. Semua itu tentu bukan tanpa risiko. Kebudayaan dan mentalitas masyarakat digiring ke arah semangat hidup yang instant, termasuk mencapai kenikmatan hidup pun dengan cara yang instant.

Kenikmatan yang dibangun oleh televisi bukan hanya kenikmatan dalam arti konsumeristik tetapi juga kenikmatan popularitas. Bahwa ukuran kualitas hidup manusia adalah ketenaran. Teater yang dalam hal ini erat berkaitan dengan dunia ekspresi dan pertunjukan (show), dekat dengan riuh rendahnya tepuk tangan para penonton, gegap gempita, decak kagum penonton kepada para awak teater (layaknya di televisi: AFI, Indonesia Idol, Indonesia Mencari Bakat/IMB, dunia selebriti) masihkah “Teater Rakyat” (maaf, sekarang saya tulis dalam tanda kutip) memiliki “spirit” bagi masyarakatnya yang “terpinggirkan”?

             Karena itu berhadapan dengan dunia kita saat ini masih mampukah teater “menimbulkan kenikmatan dalam usaha mencari pengertian” apalagi “kesenangan dalam usaha mengubah dunia”?

 

 Referensi:

  1. Ruedi Hofmann SJ, dalam majalah Rohani, Yogyakarta, 1988. Hal. 226-229.
  2. Y.I. Iswarahadi SJ, Manuskrip Pelatihan teater Rakyat SAV Puskat.
  3. Studio Audio Visual Puskat, dalam program video “Teater Rakyat, Teater Bagi Masyarakat Kebanyakan”, 1993.

 

 

Jumat, 17 Oktober 2014,nasarius sudaryono, berkomentar :
Terima kasih untuk artikel yang memberi pencerahan ini.
Reply From Administrator
Sama-sama mas Nazar... Trimakasih sudah mampir di web kami... :)