Studio Audio Visual Puskat
  • Hubungi Kami
  • Testimoni
Rabu,20 Agustus 2014 09:12 | Artikel | 5916 Views | 1 Comments
WAKATOBI, Secercah Cahaya Surga

Oleh: Margaretha Rini

Indonesia adalah negara yang mempunyai jumlah penduduk dan kebudayaan yang beraneka ragam. Sebagai negara kepulauan yang mempunyai kekayaan alam dan aneka ragam hayati, Indonesia tidak hanya dikenal karena keragaman etnik, suku bangsa, agama, dan budaya, tetapi juga karena mampu menyikapi keberagaman tersebut dalam tingkat peradaban. Oleh karena itu kebudayaan yang merupakan kunci peradaban manusia merupakan komoditas utama yang harus dilestarikan dan menjadi tanggung jawab setiap insan untuk senantiasa menjaga keberadaannya.

Sampai saat ini belum banyak orang yang tahu kalau di belahan Pulau Sulawesi, terdapat sebuah gugusan kepulauan yang menyimpan potensi baik seni tradisi, budaya, maupun pesona alam yang sangat menawan. Wakatobi atau yang di dalam Peta Indonesia dikenal dengan sebutan Kepulauan Tukang Besi adalah sebuah kabupaten yang terletak di Sulawesi Tenggara. Kata Wakatobi sendiri merupakan singkatan dari nama 4 pulau utama yaitu: Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko.

Untuk memudahkan para wisatawan, Pemerintah Kabupaten Wakatobi semakin meningkatkan sarana dan pra-sarana dua pintu gerbang utama. Pintu gerbang yang pertama adalah bandara. Saat ini akses ke Wakatobi dapat dicapai dengan keberadaan Bandara Maranggo di Pulau Tomia dan Bandara Matahora di Pulau Wangi-Wangi.

Sebagai wilayah kepulauan, akses utama menuju Wakatobi adalah transportasi laut. Untuk itu Pemerintah Kabupaten Wakatobi terus meningkatkan pembangunan sarana dan prasarana pintu gerbang yang kedua yaitu pelabuhan-pelabuhan yang ada di setiap pulau di wilayah Wakatobi.

Selain kaya akan seni tradisi dan budaya, kepulauan yang berpenduduk kurang lebih 100.000 jiwa dan mempunyai wilayah seluas 1,4 juta hektar ini mempunyai keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. Dari 850 jenis karang dunia, 750 jenis ditemukan di Wakatobi. Sedangkan di Laut Merah Mesir ada 300 jenis karang dan di Laut Caribia hanya 50 jenis karang. Keindahan panorama bawah laut Wakatobi semakin lengkap dengan keberadaan 942 makhluk laut dari berbagai spesies. Selain itu Wakatobi juga terkenal karena memiliki “atoll” atau pulau karang yang berbentuk lingkaran di laut-laut tropika terbesar kedua setelah Great Berrier di Australia.  

Melihat potensi alam yang luar biasa ini, kabupaten pemekaran yang lahir pada tanggal 18 Desember 2003 yang lalu ini menetapkan sebuah visi yaitu  “Terciptanya Surga Nyata Bawah Laut di Pusat Segitiga Karang Dunia”. Ini adalah sebuah visi yang sangat ambisius, karena itu sebagai niat atau cita-cita yang menggiring perjalanan pembangunan atau frame work di dalam membangun daerah Wakatobi ini.

 Visi “Terwujudnya Surga Nyata Bawah Laut di Jantung Segitiga Karang Dunia”, dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Wakatobi  melalui 3 filosofi proses yaitu:

        Ø  bagaimana surga bawah laut mampu menciptakan surga di pulau atau basis daratan, 

        Ø  bagaimana surga di daratan mampu menciptakan surga masyarakat dan ekonomi,

 Ø dan bagaimana surga masyarakat mampu mewujudkan masyarakat masuk surga atau religius.

Melalui filosofi ini diharapkan masyarakat Wakatobi semakin terdorong untuk merawat dan melestarikan potensi budaya dan alam yang mereka miliki, agar mampu mewujudkan  Secercah Cahaya Surga di Wakatobi.

Sebagai upaya mempromosikan Kabupaten Wakatobi, sampai saat ini Studio Audio Visual PUSKAT Yogyakarta bekerjasama dengan Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jakarta, telah 3 (tiga) kali mendapatkan kesempatan untuk membuat produksi program video yaitu:

1.     Program video yang pertama diproduksi pada bulan Desember 2008 yaitu program Dokumentasi Seminar Lisan IV yang dilaksanakan pada tanggal 1 – 3 Desember 2008 dan Profil Kabupaten Wakatobi dengan judul: “Wakatobi, Secercah Cahaya Surga’.

 2.        Program video yang kedua diproduksi pada tahun 2012 dan 2013 yang mengambil kisah tentang perjuangan seorang pemuda kecil dari Pulau Tomia yang mempunyai mimpi menjadi seorang yang besar dan mampu membangun daerahnya. Program ini berjudul: “Alam, Budaya, dan Manusia: Cerita dari Wakatobi untuk Indonesia”.

3.         Program yang ketiga diproduksi pada tahun 2014 tentang sebuah tarian nan exotis yaitu Tari Lariangi, yang merupakan tarian khas Pulau Kaledupa. Tari tradisional ini lahir pada tahun 1634 di kala Raja Buton pertama berkuasa. Tarian ini merupakan tarian persembahan dari Kaledupa untuk dimainkan di Istana Raja dalam wujud gerakan dan nyanyian yang berisi petuah-petuah bijak.

       Tari Lariangi merupakan satu dari beberapa tarian yang diusulkan dalam    Memorandum of Understanding (MOU) atau nota kesepahaman yang dapat digunakan untuk mematenkan seni budaya yang ada di Nusantara ke UNESCO sebagai salah satu badan PBB yang menangani pendidikan dan keragaman budaya dan tradisi.

        Pada tanggal 5 – 8 Agustus 2014, PT Alam Media Yogyakarta mendapat kesempatan untuk meliput Pentas Tari Lariangi dalam acara Peresmian Barata Kaledupa. Acara ini selain dihadiri oleh Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jakarta yaitu Dr. Pudentia MPSS, para pejabat Pemerintah Kabupaten Wakatobi, seluruh masyarakat Pulau Kaledupa, juga dihadiri oleh Lembaga Adat Kesultanan Buton dan Sultan Buton ke-40 yaitu Dr. H. La Ode Muhammad Izat Manarfa, MSc.

Semoga melalui promosi yang terus diupayakan oleh Pemerintah Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara ini usaha mewujudkan Visi “Terwujudnya Surga Nyata Bawah Laut di Jantung Segitiga Karang Dunia”, bisa semakin terwujud.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sabtu, 06 Desember 2014,mustakim, berkomentar :
artikel yg bagus untuk di baca pemuda-pemudi wakatobi,, agar mereka tau betapa kayanya WAKATOBI yg kita miliki bersama ini # I LOVE WAKATOBI
Reply From Administrator
Terimakasih apresiasinya.... :)