Studio Audio Visual Puskat
  • Hubungi Kami
  • Testimoni
Rabu,06 Juni 2018 08:55 | Artikel | 269 Views | 0 Comments
Teknik Bercerita untuk Pendidikan Nilai

Oleh: FX. Tri Mulyono

Manusia adalah makhluk yang suka (ber)cerita. “animal story telling”.

(Jhon Finkel)

 

Meskipun televisi menghadirkan banyak cerita, namun sebenarnya kita bercerita secara langsung (story telling) kepada anak atau orang dewasa sekalipun, tetap menarik perhatian. Karena biar bagaimana pun televisi (video) adalah televisi yang mempunyai banyak keterbatasan dan memiliki karakteristik sendiri. Sedangkan kita sebagai pencerita, memliki perasaan, bisa kontak langsung, menyampaikan dengan pandangan mata, seluruh anggota tubuh kita yang semua itu menggambarkan emosi tertentu. Di situ audience merasakan kehadiran Anda, sehingga audience merasa tentram, nyaman dan kehangatan hati ketika mendengarkan cerita Anda. Inilah yang tidak dimiliki “bahasa” televisi. Namun masalahnya, mampukah kita hadir bercerita secara menarik? Apalagi membuat pendengar Anda: STOP THE EARS AND STOP THE EYES! (Memukau).

 

Baiklah, sekarang kita perlu memahami terlebih dahulu beberapa hal penting sehubungan dengan cerita.

 

 

·        Unsur-unsur cerita

Cerita yang baik tentunya memiliki kualifikasi seperti berikut:

 

A.     Unsur isi

1.      Tokoh-tokoh cerita

2.      Tindakan dan ucapan para tokoh

3.      Setting:

a.   Seting Tempat

b.   Seting Waktu

4.      Plot/alur cerita:

a.      Eksposisi/pemaparan awal cerita

b.      Komplikasi atau pertikaian awal

c.       Klimaks atau titik puncak

d.     Anti Klimaks/Falling action

e.      Resolusi/Penyelesaian.

 

B.     Unsur retorika (cara mengungkapan)

1.      Suatu tema dapat diungkapkan dengan mengulang kata-kata tertentu, mengulang peristiwa tertentu, menyinggungnya sejak permulaan cerita dalam kaitannya dengan peristiwa yang berikut bersentuhan titik kaitannya, dengan mengatakannya langsung melalui pembicaraan para tokohnya dan dengan menciptakan suasana tertentu.

2.      Pencerita: si Pencerita ini ada di dalam dan penceritalah yang mengantarkan pendengar untuk masuk ke dunia cerita.

 

Selain unsur-unsur tersebut, ada pendapat lain yang mengatakan bahwa cerita yang baik memiliki syarat-syarat: kerangka, adegan, pelaku, panggung dan waktu.

Penjelasannya:

Kerangka, garis besar atau rancangan dari sebuah cerita.

Adegan, bagian babak dalam lakon cerita.

Panggung: tempat terjadinya suatu peristiwa tertentu.

Waktu

 

·         “JUKNIS” Petunjuk Teknis untuk Bercerita

Pemikiran ini hanyalah salah satu dari sekian banyak cara yang dapat dilakukan oleh para pencerita. Lebih tepatnya, Anda dapat menemukan dan melakukannya sendiri sesuai dengan keadaan Anda.

Beberapa langkah yang dapat diusahakan untuk bercerita:

1.      Carilah cerita yang menarik.

2.      Bacalah ceritanya secara berulang-ulang.

3.      Buatlah langkah mengawali penceritaan dengan baik (menantang pendengar untuk mengetahui cerita lebih lanjut). Ada beberapa cara untuk mengawali cerita:

4.      Teruskan berceritanya secara mengalir. Pada saat bercerita, perhatikan beberapa hal ini:

a.      Pengulangan kalimat atau kata-kata tertentu tanpa ada hubungannya dengan konteks cerita (dapat membosankan).

b.      Berceritalah secara mengalir, utuh tanpa menyelingi dengan pertanyaan-pertanyaan di saat bercerita. Ini akan mengurangi mood pendengar terhadap emosi dan suasana cerita yang sedang diperhatikan.

c.       Pergunakanlah kemampuan tubuh dan suara Anda:

Bahasa tubuh: gerak tangan, jari, bahu, siku,

Mimik: sorot mata,

Suara: warna suara, intonasi, progresi, dinamika, nafas.

Tubuh dan suara, ketika Anda dapat memanfaatkannya secara tepat dan pada tempo, irama yang pas, maka akan sangat mendukung kejelasan cerita yang akhirnya cerita sangat, menarik..

Yang penting berceritalah dengan yakin dan menawan

5.      Akhirilah cerita dengan menunjukkan kondisi tubuh dan emosi secara sehat dan stabil agar tidak mempengaruhi perhatian dan kondisi pendengar.

 

 

 

·     Bagaimana selanjutnya setelah cerita disajikan?

Baik cerita yang disajikan secara lisan atau langsung oleh pencerita maupun lewat media audio visual, kemungkinan di bawah ini dapat menjadi pertimbangan untuk pendampingan kita.

 

Jika cerita yang telah dimiliki oleh pendengar, usai bercerita pencerita tidak perlu bersusah-susah memberikan kesimpulan-kesimpulan atau pesan-pesan yang sudah dirumuskan sendiri oleh pencerita itu. Pesan, wejangan, nasihat, petuah kepada pendengar tidak akan banyak menolong, sebab belum tentu sesuai dengan pengalaman dan konteks hidup pendengar. Pendengar sendirilah yang mengetahuinya. Cerita mana yang paling tepat untuk dirinya sendiri.

 

 Tetapi bagaimana jika pendengarnya adalah anak-anak. Mungkinkah mereka (anak-anak) mampu membandingkan cerita yang telah dia miliki dengan pengalaman hidupnya? Sangat mungkin, hanya saja langkah-langkah atau cara “mengunyahnya” berbeda dengan pendengar cerita di kalangan orang tua / dewasa. Dengan memiliki cerita itu, anak sebenarnya memasukkan dalam-dalam cerita itu ke lubuk hati. Sebagai contoh kita bisa melihat pengalaman diri kita sendiri, cerita manakah yang masih bisa kita ingat sampai sekarang, ketika cerita itu kita dapatkan saat kita masih anak-anak dulu? Sadar atau tidak, cerita itu sebenarnya telah turut membentuk sikap kita. Bagaimana orang tua, guru kita dulu memberikan cerita-cerita rakyat, cerita binatang, cerita kehidupan bahkan cerita Kitab Suci sekalipun. Kata per katanya mungkin kita sudah tidak ingat lagi, tetapi alur cerita, tokoh-tokohnya, kejadiannya pastilah masih bisa kita ingat dengan baik. Bahkan “suasana” ketika orang tua kita dulu bercerita. Semua itu masih kita ingat dengan baik.

 

Meskipun demikian kita sering tergoda untuk menyampaikan wejangan-wejangan kepada anak-anak setelah cerita disampaikan.  Kita menganggap bahwa anak tidak tahu sama sekali “makna/pesan” dari cerita itu. Maka kita merasa perlu menekankan pesannya. Jadi sebenarnya kita sendirilah yang merasa khawatir, seolah-olah anak tidak tahu sama sekali pesannya. Atas nama khawatir inilah kita terus memaksakan kehendak untuk “menjejalkan” suapan rumusan-rumusan pesan-pesan nasihat. Padahal cara ini sebenarnya justru melemahkan kreativitas anak untuk bersikap kritis terhadap realitas hidupnya. Anak biasa dituntun, dibimbing hingga sangat tergantung pada “pencerita”.

 

Maka langkah yang bijaksana setelah kita bercerita sebaiknya adalah menanyakan kembali apa yang telah mereka dengar dari cerita tadi: tokoh mana yang jahat, baik, bengal (mengenai tabiatnya)? Wujud atau bukti sikap tokoh yang jahat dan baik itu apa? Tokoh mana yang dipilih? Mengapa memilih tokoh itu? Dan seterusnya. Dengan kata lain, pertanyaan-pertanyaan itu diajukan bukan untuk mengarahkan anak pada rumusan pesan tertentu tetapi membantu anak untuk “mengunyahkan” atau membandingkan cerita dengan hidupnya.

 

Barangkali kisah berikut ini dapat membantu penjelasan di atas:

 

 

Seorang murid mengeluh kepada Gurunya:

 

“Bapak menuturkan banyak cerita,

 

tetapi tidak pernah menerangkan maknanya

 

kepada kami.”

 

 

 

Jawab sang Guru:

 

 

 

“Bagaimana pendapatmu, Nak,

 

andaikata seseorang menawarkan buah kepadamu,

 

namun mengunyahkannya dahulu bagimu?”

 

Tak seorang pun dapat menemukan pengertian yang paling tepat bagi dirimu sendiri. Sang Guru pun tidak mampu.

 

 

(Anthony de Mello, Burung Berkicau, Jakarta, CLC: 1993).

 

 

Promo Domain Murah