Studio Audio Visual Puskat
  • Hubungi Kami
  • Testimoni
Jumat,03 Agustus 2018 09:49 | Berita | 39 Views | 0 Comments
MUSEUM KEJUJURAN, film pendek terbaru produksi Rumpun Pewartaan KWI bekerja sama dengan Studio Audio Visual Puskat Yogyakarta.

Studio Audio Visual Puskat Yogyakarta kembali membuat produksi film pendek bekerja sama dengan Rumpun Pewartaan KWI Jakarta dengan judul Museum Kejujuran.  Film ini dibuat berdasarkan Nota Pastoral Konferensi Waligereja Indonesia tahun 2018 bertema  Panggilan Gereja dalam Hidup Berbangsa, dengan sub-tema Menjadi Gereja yang Relevan dan Signifikan.

Sutradara film Museum Kejujuran, Rm. Murti Hadi SJ mengatakan bahwa Frase Museum Kejujuran ini memiliki makna ganda yang sering dipakai dalam dunia film. Makna yang pertama adalah bahwa kejujuran itu hanyalah sebuah museum di jaman ini, artinya kejujuran itu hanyalah cerita usang, cerita masa lalu, akan susah mencari orang jujur di jaman ini. Kisah tentang kejujuran yang usang ini dimunculkan dalam film pendek ini melalui tokoh utamanya yang adalah seorang pensiunan guru tua yang suka memakai baju korpri, sederhana hidupnya, dan tidak mau memakai segala fasiltas yang diberikan anak-anak yang adalah juga hasil korupsi. Maka pesannya adalah kebalikannya, jangan sampai kejujuran itu hanyalah sebuah museum masa lalu yang saat ini hanya jadi tontonan saja.

Pesan kedua dari frase Museum Kejujuran adalah Gereja adalah tanda kesaksian dari kejujuran itu sendiri. Kehadiran Gereja dalam dunia politik di Indonesia adalah tanda yang jujur akan kejujuran itu sendiri. Kehadiran Gereja di kancah hidup berbangsa di Indonesia sudah ada sejak jaman dulu. Sebut saja Mgr. Soegijaprana yang sangat terkenal dengan slogannya “100 persen Katolik, 100 persen Indonesia. Di era orde baru, banyak orang katolik yang hadir di pemerintahan karena keteladanannya akan kejujuran. Dan ketika bangsa ini memasuki era reformasi sampai sekarang, orang-orang Katolik tetap exist di kancah perpolitikan di Indonesia dengan kehadirannya yang khas yaitu soal integritas dalam nilai kejujuran. Tentu saja tidak bisa dipungkiri ada orang-orang Katolik yang terlibat dalam tindak korupsi yang memalukan ini, namun film ini tetap memberi kesan kuat agar orang Katolik tetap harus menjadi kesaksian akan kejujuran di manapun dan kapanpun mereka berada.

Pengambilan gambar atau shooting dilaksanakan dari tanggal 27-29 Juli 2018 dan mengambil lokasi di beberapa tempat di Yogyakarta diantaranya di Universitas Sanata Dharma, SD Kanisius Demangan Baru dan sebuah rumah di daerah Degolan Yogyakarta dengan melibatkan pemain senior Yogyakarta Ign. Wahono dan Lisa A. Riyanto dari Jakarta.

Film ini diharapkan bisa memberi inspirasi agar nilai-nilai kejujuran tetap bertahan di tengah jaman yang semakin dipengaruhi oleh budaya konsumerisme ini.(*Kristiani Endah)

 

 

Promo Domain Murah