Studio Audio Visual Puskat
  • Hubungi Kami
  • Testimoni
Rabu,15 Agustus 2018 02:18 | Berita | 119 Views | 0 Comments
GENPOSTING, Generasi Positif Thinking, Catatan Perjalanan Hari Pertama, Rapat Pleno Komisi Komsos Keuskupan Se-Indonesia

Waktu itu saya masih di ruang tunggu bandara Adi Sucipto Jogja, ketika sebuah pesan masuk via Whatsapps yang meminta saya meliput kegiatan Genposting ke-esokan harinya yang akan dimulai pukul 08.00 Waktu Indonesia Bagian Timur. Reaksi spontan saya langsung bertanya, apa itu Genposting ? Ternyata Genposting adalah singkatan dari Generasi Positif Thinking. Dan ternyata Genposting mempunyai account di Media Sosial yang mengatasnamakan kepemilikannya oleh Kementrian Komunikasi dan informasi, yang dibentuk untuk mengkampanyekan Stop Hoax, dan ujaran-ujaran negatif di Media Sosial. Malam itu sempat panik juga, karena pesawat yang akan saya tumpangi delay lumayan panjang, dan kita tidak pernah tahu jam berapa sampai di Sorong, tempat diselenggarakannya Seminar Nasional dan Rapat Pleno Komisi Komsos Keuskupan se-Indonesia. Namun akhirnya pagi itu, pukul 07.40 WIT sampailah saya di lokasi dan berjumpa dengan orang-orang muda Sorong yang akan mengikuti Workshop yang diselenggarakan oleh Genposting. Kita tidak pernah tahu siapa orang-orang di balik Genposting, tapi kita mengenal accountnya di Instagram yang aktif mengkampanyekan hal-hal positif untuk melawan hoax dan posting-posting negatif di media sosial.

Setelah mendengarkan uraian panjang dari Kementrian Kominfo tentang tantangan generasi milenial di era digital ini, muncullah dua pembicara muda yang aktif di dunia media sosial dan bahkan bisa hidup dari media sosial ini. Yang pertama adalah Kang Arul yang mengajari anak-anak muda Sorong ini membuat konten dari gadget yang kita punya. Anak-anak Muda ini segera praktek produksi dengan membuat beberapa shot dan selfie, lalu diajari bagaimana mengedit dengan handphone yang kita punya. Suasana menjadi sangat cair, anak-anak muda itu tidak canggung berproduksi membuat konten audio visual yang positif untuk instagram.

Sesi selanjutnya ada Afdillah Chudiel, seorang vlogger sekaligus youtuber yang banyak mempromosikan Papua. Yang dia posting bukan hal-hal besar, misalnya soal harga gorengan di Papua. Tema besarnya adalah soal Papua, dant tema kecilnya tentang hal-hal yang sangat sederhana, misalnya soal harga gorengan tadi. Followersnya banyak dan konten-kontennya tentang Papua sangat positif. Kisahnya sangat menginspirasi orang-orang muda yang juga ingin menjadi vlogger dan youtuber.

 

Dunia Sudah Berubah

Mengikuti workshop orang-orang muda ini membuat kita sadar bahwa dunia sudah sangat berubah. Film yang dulu begitu susah payah dibuat, sekarang menjadi terasa mudah sekali. Film yang diproduksi dengan memakan biaya tinggi, sekarang menjadi terasa sangat murah. Semua sudah tersedia di hand-phone, tinggal download aplikasinya. Semua orang bisa buat film, tinggal tayang di bioskop media sosial kesukaan kita, bisa di Youtube, Facebook, Instagram atau Twitter. Semua orang bisa menjadi apa saja yang dia mau. Mau jadi seorang film maker, mereka bisa buat sendiri dengan handphonenya, bisa untuk shoot, sekaligus editingnya, dan bisa langsung tayang kapanpun kita mau.

Selamat datang di era digital dengan segala ecosystem yang mendukungnya. Seluruh atmosfer dunia digital ikut mendukung proses kemanusiaan yang semakin men-digital. Manusia bisa menjadi apa saja yang ia mau dengan cepat dan instan. Asal dia suka dan bisa menerima segala kecanggihan tehnologi ini, ia bisa mencapai apa yang ia mau. Dunia training televisi dan film yang biasa dilakukan selama berminggu-minggu, sekarang bisa diringkas dalam sehari. Aturan-aturan yang rumit dalam membuat film, sekarang bisa diatasi hanya dengan beberapa langkah saja. Prinsip-prinsip sinematografi yang bisa diterangkan di jam-jam mata kuliah yang panjang, ditabrak saja, yang penting gambarnya bagus dan lucu, dan di-like oleh banyak orang. Makna hidup bukan lagi ditentukan oleh prestasi, tetapi oleh popularitas. Semakin saya exist dan punya banyak followers, semakin saya sampai pada pemenuhan diri saya.

Apakah ada yang perlu dipersalahkan dengan kondisi yang seperti ini ? Tidak ada yang salah, bagaimanapun perkembangan tehnologi akan membawa manusia pada titik yang kita tidak pernah tahu sampai dimana. Kondisi semacam ini tidak bisa dihindari. Kondisi semacam ini menuntut manusianya yang harus berubah dalam menyikapi perkembangan tehnologi yang luar biasa ini. Tehnologi akan terus berkembang tanpa persetujuan kita, tetapi sebaliknya kita sendiri yang akan ditinggal oleh teknologi jika kita tidak berubah. Apakah berubah berarti kita harus meninggalkan dunia Film yang dibuat dengan susah payah itu ? Apakah kita harus meninggalkan dunia training yang panjang dan lama itu ? Tentu saja tidak. Kita tetap membutuhkan training dan film yang konvensional itu, tetapi fenomena dunia digital yang serba cepat dan instan ini juga harus kita sikapi, tidak dengan menolaknya, tetapi justru memeluknya. Salah satunya adalah memeluk orang muda, memeluk cita-citanya, memeluk kesukaannya, dengan inilah karya kita akan tetap relevan sepanjang jaman.

 

Kabar Baik di Era Digital.

Yang menarik dari workshop ini adalah juga orang muda diajak untuk menjadi pewarta kebaikan. Orang-orang muda ini diajak untuk memposting hal-hal yang positif yang mereka alami dalam hidup mereka. Orang-orang muda diajak untuk menyebarkan virus kebaikan untuk Indonesia dan dunia. Tentu saja gerakan posting positif ini ada sebabnya. Dan dari workshop ini juga kita mengetahui, kehadiran media sosial di tengah-tengah masyarakat ini bukan tanpa masalah. Kita bersyukur atas perkembangan tehnologi komunikasi yang sangat pesat dan sangat membantu kehidupan manusia di dunia ini. Tetapi tampaknya kuasa kejahatan juga bersorak sorai dengan hadirnya media sosial ini. Media Sosial ini ikut memepercepat beredarnya berita-berita hoax, fake news, dan hate speech. Hal-hal negatif ini ikut mempengaruh opini publik akan isue-isue yang berkembang di masyarakat. Dan sering kali hal-hal yang baik dan positif, karena kebaikannya lebih memilih diam terhadap ketidak-benaran ini.

Kementrian Kominfo mensinyalir bahwa postingan-postingan negatif ini sesuatu yang tidak bisa dikesampingkan begitu saja, karena postingan-postingan negatif ini berkembang secara masive di tengah-tengah masyarakat. Korbannya adalah masyarakat yang sederhana. Masyarakat yang sederhana biasanya menerima berita palsu itu tanpa disaring, dan sering kali diterima begitu saja sebagai sebuah kebenaran. Dan kebenaran yang palsu ini berkembang dengan cepat secara viral, dan mempengaruhi opini publik seturut kepentingan si pembuat  berita palsu.

Berita palsu dan posting negatif hanya bisa dilawan dengan memperbanyak postingan-postingan positif. Hal yang baik dan positif harus lebih exist di media sosial. Hanya dengan cara itu masyarakat akan semakin cerdas menilai dan akhirnya memilih yang baik. Inilah pendidikan moral di dunia digital. Masyarakat harus diberi pilihan, dan untuk menghindari pilihan-pilihan yang negatif berkuasa, pilihan-pilihan yang positif juga harus exist di media sosial. Dalam konteks inilah kita membutuhkan orang muda sebagai pelaku di dunia digital, dan orang muda itu tidak hanya pelaku, tetapi juga memproduksi konten-kontent positif itu. Workshop-workshop yang dilaksanakan Kementrian Kominfo ini menjadi penting karena workshop ini menjadi sebuah gerakan literacy untuk masyarakat, terutama orang muda, yang juga sekaligus sebagai pelaku pewarta kebaikan di tengah-tengah masyarakat.

 

Sorong, 15 Agustus 2018

FX. Murti Hadi Wijayanto SJ

 

 

 

 

Promo Domain Murah