(0)

Berita

Pekan Komunikasi Sosial Nasional 2019 dibuka di Makassar: Catatan Harian Rm Murti hari Kedua dalam PKSN 2019 di Makassar

01 Juni 2019 | Berita | Rm. Murti Hadi SJ | 309 Views

 

Hari kedua PKSN tahun 2019 di Makasar dijadwalkan untuk Seminar Nasional dengan tema “Memperkokoh NKRI Melalui Dunia Digital”. Keynote speaker dalam Seminar Nasional ini sebenarnya adalah Menteri Kominfo sendiri, Rudiantara, S.Stat, MBA, tetapi karena kesibukan pasca kerusuhan 21-22 Mei 2019 yang lalu, beliau tidak bisa meninggalkan ibu kota Jakarta, terkait dengan pengaturan jaringan internet yang sempat dibatasi oleh Kementrian kominfo sehubungan dengan hoax yang dipakai untuk penyebaran berita dan provokasi kepada masyarakat.

Acara pembukaan Seminar Nasional ini diawali dengan pertunjukan tari dan atraksi sepak takrauw oleh para mahasiswa Universitas Hasannudin. Para pengunjung masih sangat menikmati ketika para penari pria melakukan juggling bola takrauw di lantai dasar, tetapi ketegangan mulai muncul ketika penari atraksi mulai naik ke pundak para penari lainnya sampai ke tingkat ketiga dengan membawa bola yang ditahan di kepala dan akhirnya berjuggling lagi di ketinggian dan menendang  lagi bolanya yang akhirnya ditrima dengan kepala dan ikat kepalanya. Semua penonton bertepuk tangan penuh kelegaan.

Dengan khidmat lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ berkumandang di Aula St Fransiskus Asisi sebagai pertanda Seminar Nasional akan segera dimulai. Selanjutnya acara dibuka dengan sambutan-sambutan. Sambutan pertama oleh Mgr. Antonius S. Bunjamin OSC yang dengan kacamata Gereja sekarang ini sangat bersyukur atas kemajuan tehnologi terkini di era industrialisasi 4.0. Namun kemajuan di bidang tehnologi industri di era digital ini harus juga dilandasi dengan nilai-nilai moral agar seluruh perkembangan dalam kehidupan manusia ini menuju pada arah yang benar dan membawa para peziarah kehidupan ini untuk sampai pada Tuhan sendiri, membawa seluruh ciptaan ini untuk sampai kepada keutuhannya. Sambutan kedua disampaikan oleh perwakilan Gubernur Sulawesi Selatan sebagai wakil dari Pemerintah setempat. Yang mengejutkan adalah mendengarkan hasil temuan penelitian Pemerintah Daerah Sulawesi Selatan yang menyampaikan bawah para pengguna media sosial ini kebanyakan adalah ibu-ibu Rumah Tangga. Semua peserta seminar tertawa tetapi sepertinya hampir semua peserta setuju dengan hasil temuan itu.

Seminar Nasional ini terselenggara berkat kerjasama antara Komisi Komsos KWI dengan Kementrian Kominfo. Dan sebagai keynote speaker kali ini adalah Sekjen Kementrian Kominfo, Dra, R. Niken Widiastuti, M.Si yang memaparkan materi dengan judul, “Revolusi Industri 4.0: Peluang dan Tantangan Bagi Masyarakat Indonesia.” Data semakin merebaknya konten-konten negatif di Indonesia ini belum menunjukkan grafik menurun secara signifikan, tetapi konten-konten negatif ini harus dilawan dengan konten-konten positif yang bersumber dari kreativitas generasi milenial saat ini. Sekjen Kominfo ini justru menunjukkan peluang-peluang bagi orang muda milenial untuk berani membuka peluang-peluang usaha di bidang ekonomi kreatif yang sedang dibuka lebar-lebar oleh pemerintahan presiden Joko Widodo.  Bahkan di Kementrian Kominfo sendiri menyediakan beasiswa untuk orang-orang muda di era milenial ini yang berani  memulai mengembangkan bisnis semacam start up. Pemerintah akan ikut mendampingi orang-orang muda ini untuk bisa meningkatkan bisnisnya menjadi unicorn, dan kelak bisa sampai heksacorn. Industri kreatif akan semakin mendapatkan tempatnya di era revolusi industri 4.0 ini.

Sesi seminar selanjutnya diisi oleh Prof. Dr Richardus Eko Indrajit yang membuka sesinya dengan kuis permainan via internet. Kisah-kisah Profesor yang sangat menarik membuat para peserta mengikuti dengan penuh tawa dan semangat. Contoh-contoh kisah yang disajikan itu tidak hanya lucu, tetapi juga sering kali mencengangkan. Salah satu yang diangkat adalah bahwa pada masa depan ketika orang mencari kerja, tidak perlu membuat curriculum vitae, tetapi perusahaan akan mencari jejak rekam kita di internet. Kalau sekarang ini jejak rekam kita sangat buruk, maka itulah diri kita yang akan dikenal orang. Rekam Jejak kita di dunia digital tidak bisa dihapus. Tetapi profesor Eko selanjutnya menjelaskan,”tidak perlu cemas”. Mulai sekarang berbuatlah hal yang baik, yang positif, dan uploadlah ke Media Sosial, dan hal-hal yang baik ini akan menimbun jejak negatif yang sudah tersusun di jejak rekam kita di media sosial.

Menjelang siang Direktur Tata Kelola Kementrian Kominfo, Drs. Sematta Sembiring menyajikan sejarah revolusi industri 4.0. Awalnya adalah Revolusi Industri 1.0 yang kelahirannya bersamaan dengan budaya tradisi lisan, ketika belum ada media lain selain media dari mulut ke mulut, komunikasi antar manusia saling bertransaksi dari mulut ke mulut. Revolusi industri 2.0 mulai jaman buku sampai elektronik, manusia bisa berkomunikasi dengan massa, banyak orang melalui tradisi buku yang dibaca banyak orang, televisi yang dikomunikasikan dengan banyak orang. Revolusi Industri 3.0 ketika internet hadir dalam hidup manusia dimana banyak orang (group) bisa berkomunikasi dengan group lain. Dan Revolusi Industri 4.0 manusia akan berkomunikasi dengan artificial intelligent alias Robot. Masa depan tenaga kerja di dunia akan diganti fungsinya oleh robot. Sekarang ini bekerja dengan cara kerja yang lama akan tergilas oleh revolusi Industri 4.0. Industri-Industri kreatif akan menjadi primadona di era Revolusi Industri 4.0.

Setelah rehat siang, Sesi dilanjutkan oleh Drs. Eusabius Binsasi, Dirjen Bimas Katolik Kementrian Agama Republik Indonesia, yang menghimbau umat Katolik untuk selalu terbuka di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Umat Katolik tidak perlu takut untuk bekerjasama dengan umat dari agama lain untuk terlibat semakin kuat membangun Indonesia. Harapan ini senada dengan yang disampaikan oleh Trias Kuncahyono, dari Harian Kompas yang memberikan sesi dengan judul “Menghadirkan Wajah Kristus di Era Digital”. Menghadirkan wajah Kristus tidak mesti harus membawa bendera Katolik, tetapi dalam banyak hal wartawan ahli Timur Tengah yang sering terjebak di wilayah perang di Timur Tengah ini sering kali justru diselamatkan oleh Ke-Indonesia-annya. Ketika dia memperkenalkan dirinya sebagai orang Indonesia, banyak orang di daerah konflik itu langsung menunjukkan sikap bersahabat, walaupun keterbatasan bahasa menghambat komunikasi antar mereka.

 

Catatan Hari Kedua Pekan Komunikasi Sosial Nasional 2019 di Makassar – Toraja.

FX. Murti Hadi Wijayanto SJ

 

 

Berita Terbaru

Sinopsis Penyejuk Imani Katolik di Indosiar tanggal 4 Agustus 2019 "Api yang terus berkobar"

Ikuti Penyejuk Imani Katolik, INDOSIAR, Minggu, 4 Agustus 2019, jam ...


Festival Film Puskat ke-5 2019 kembali digelar

FESTIVAL FILM PUSKAT (ke-5) 2019 “MEMBANGUN SEMANGAT DEMOKRASI”   Saudara-saudari, Salam Sejahtera bagi ...


Sinopsis Penyejuk Imani Katolik di Indosiar tanggal 21 Juli 2019 "Kebenaran akan memerdekakanmu"

Ikuti Penyejuk Imani Katolik, INDOSIAR, Minggu, 21 Juli 2019, jam ...


Foto Terbaru

Video Terbaru