(0)

Berita

Pemutaran Film bersama YIPC

07 April 2021 | Berita | Agmi Sinta Nanda Permatasari-Magang | 362 Views

Pandemi tidak menyurutkan kebersamaan anak muda untuk tetap bisa melakukan kegiatan rutinitas bersama komunitas. Sudah beberapa kali SAV Puskat menjadi tempat berkumpul komunitas YIPC.  Apa itu YIPC? YIPC merupakan kepanjangan dari Young Interfaith Peacemaker Community yang beranggotakan pemuda-pemudi lintas iman yang lebih berkonsentrasi pada bidang perdamaian.  Dalam rangka memperingati hari perempuan, komunitas YIPC (Young Interfaith Peacemaker Community) melaksanakan kegiatan Pemutaran Film di SAV Puskat pada tanggal 24 Maret 2021. Setelah pemutaran film, ada diskusi dan refleksi bersama atas film yang baru saja diputar. Kegiatan ini rutin dilakukan komunitas YIPC (Young Interfaith Peacemaker Community). Film yang dipilih kali ini adalah film dengan judul Les Innocents, Film Perancis produksi tahun 2016, besutan sutradara Anne Fontaine, yang berkisah tentang kehidupan di biara kontemplatif para suster Benedictine di Polandia yang menjadi korban perang pada tahun 1945.  Film yang bersetting musim dingin dengan pemandangan salju berwarna putih di sepanjang film ini menjadikan film ini mampu menggambarkan betapa dinginnya Agama terhadap kemanusiaan lebih-lebih pada masa perang dunia kedua, demikian kata Romo Murti dalam pengantarnya sebelum film mulai diputar.

 

Film Les Innocents diangkat berdasarkan kisah nyata seorang perawat Prancis yang bertugas di wilayah Polandia untuk meyelamatkan tentara-tentara Prancis yang masih ada di medan perang di wilayah tersebut. Perawat yang bernama Mathilde ini semula menolak kedatangan seorang biarawati novis yang meminta pertolongan dokter di Dinas Palang Merah Perancis tersebut. Ia menjadi tersangkut dalam kehidupan para biarawati Benedictine Polandia ini karena ia menemukan banyak biarawati yang hamil karena kekarasan para tentara pada saat perang. Masalah menjadi semakin pelik karena kepala biara ingin merahasiakan seluruh kejadian kekerasan akibat perang ini karena peristiwa ini dianggap sebagai aib. Kedatangan Mathilde dirasa sebagai ancaman atas terbongkarnya aib ini. Bagaimana nasib bayi bayi yang dilahirkan oleh para biarawati ini? Di sinilah letak permasalahannya. Suster kepala atas nama ketaatan pada regula biara mengambil jalan yang radikal atas nama kesucian panggilannya, sementara para biarawati yang melahirkan anak-anak yang tak berdosa itu, ingin merawat anak-anak yang lahir dari darah dagingnya. Perseteruan Pimpinan Biara dan Wakilnya yang sudah bersahabat dengan Mathilde yang beraliran ideologi komunis ini semakin meruncing di akhir kisah.

 

Film ini layak diputar dalam rangka memperingati Hari Perempuan oleh sekelompok orang muda yang aktif dalam gerakan perdamaian dan interfaith ini, karena memang film ini mengangkat kisah para perempuan yang berjuang untuk mempertahankan kehidupan di masa sulit pada masa Perang Dunia Kedua. Di satu sisi ada perempuan-perempuan yang ingin taat kepada Tuhan dengan mencoba mempertahankan kesucian menurut jalan agama yang dalam film ini lebih digambarkan sangat dingin terhadap kemanusiaan. Di sisi lain ada perempuan-perempuan yang justru tidak terlalu memikirkan agama dan Tuhan tetapi justru menemukan jalan jalan yang solutif untuk meyelamatkan kemanusiaan. Dan digambarkan juga bagaimana para perempuan biarawati yang menjadi korban perang ini melukiskan bahwa bagaimanapun dia tetap seorang perempuan, tubuhnya tidak bisa menolak bahwa ia sorang ibu, ketika ada bayi yang dilahirkan dari rahimnya.

 

Perang selalu membawa korban, dan korban perang tidak hanya para tentara yang gugur di medang perang, tetapi juga para perempuan dan anak-anak. Agama yang seharusnya menjadi penyelamat kehidupan sering kali justru menjadi terasa dingin terhadap problem-problem kemanusiaan dengan mengatasnamakan jalan hidup yang suci. Tetapi dari tubuh perempuan lahirlah cinta yang selalu ingin merawat dan menyelamatkan kehidupan. Jika melalui agama jalan terasa buntu, Tuhan selalu punya cara melalui hati para perempuan ini untuk menyelamatkan kehidupan yang tak berdosa, Les Innocents!

Berita Terbaru

Pemutaran Film bersama YIPC

Pandemi tidak menyurutkan kebersamaan anak muda untuk tetap bisa melakukan ...


Produksi Music Show Tugas Akhir Mahasiswa di Studio SAV Puskat Yogyakarta

  SAV PUSKAT memiliki studio yang sangat baik untuk kegiatan, baik ...


Guru-guru SD Sanjaya Tritis Yogyakarta mengikuti Training Content Creator untuk Pendidikan di Studio Audio Visual Puskat Yogyakarta.

Guru-guru SD Sanjaya Tritis Yogyakarta mengikuti Training Content Creator untuk ...


Foto Terbaru

Video Terbaru